Tuesday, April 28, 2015

Laporan Semester Kimia Dasar


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. Pada prinsipnya, pemisahan dilakukan  untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur, sedangkan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar oleh zat lain. Dalam melakukan pemisahan dan pemurnian diperlukan pengetahuan dan keterampilan, terutama jika harus memisahkan komponen dengan kadar yang sangat kecil. Untuk tujuan itu, dalam ilmu kimia telah dikembangkan berbagai cara pemisahan dari pemisahan sederhana yang sering dilakukan sehari-hari sampai metode pemisahan dan pemurnian yang kompleks atau tidak sederhana.

Dasar   Pemisahan       Campuran
            Zat atau materi dapat dipisahkan dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasari pemisahan campuran atau dasar pemisahan. Beberapa dasar pemisahan campuran antara lain sebagai berikut:
a)     Perbedaan           ukuran partikel
            Jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan berbeda dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur), dapat dipisahkan dengan metode filtrasi   (penyaringan). Untuk keperluan ini kita harus mengunakan penyaring dengan ukuran yang sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaringan dan disebut hasil penyaringan sedangkan zat pencampurnya akan terhalang dan disebut                       residu.
b)     Perbedaan           titik      didih
            Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki perbedaan titik didih, kita dapat melakukannya dengan menggunakan metode destilasi. Zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi akan terlebih dahulu menguap. Jika yang kita inginkan adalah zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi, maka langkah selanjutnya kita mengembunkan uap dari zt tersebut (pendinginan) dan mengalirkannya kewadah tertentu. Jika yang kita inginkan adalah zat yang memiliki titik didih lebih rendah, maka kita cukup memanaskan campuran tersebut saja. Sampai suhu mencapai titik didih zat yang akan dicari.
c)     Perbedaan           kelarutan         zat
            Suatu zat yang selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A tapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi menjad dua, yaitu pelarut polar (pelarut yang memiliki kutub) dan pelarut nonpolar (pelarrut organic) seperti alkohol, methanol, eter dan kloroform.dengan prinsip perbedaan kelarutan, kita dapat memisahkan campuran dari pelarut        tersebut.
d)    Perbedaan            pengendapan
            Suatu zat memiliki kecepatan mengendap yang berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang memiliki berat jenis lebih besar daripada pelarutnya akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan kecepatan pengendapan yang berbeda, maka pemisahan campuran tersebut dapat dilakukan dengan metode sedimentasi atau sentrifugsi (pemusingan). Jika dalam campuran terdapat lebih dari satu zat yang akan kita inginkan, maka digunakan metode presipitasi yang akan dikombinasikan dengan metode           filtrasi.
e)     Difusi
            Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu sama lain. Aliran ini dapat dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur sedemikian rupa (baik besar tegangan nya maupun kuat arusnya) akan menarik partikel zat hasil kearah tertentu untuk memperoleh zat yang murni. Metode pemisahan campuran dengan menggunakan bantuan listrik disebut elektrodialisis. Selain itu, kita mengenal juga istilah elektroforesis, yaitu pemisahan zat yang berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan penyusun DNA) dapat dilakukan dengan elektroforesis, menggunakan suatu media yang disebut         gel
agarosa.

f)      Adsorpsi
            Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorpsian. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organisme.

Metode
Pemisahan      Standar
            Tidak ada cara unik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisika masing-masing komponen titik kritisnya dapat menggunakan perbedaan sifat yang sangat
    kecil.
a)       Filtrasi
            Biasanya filtrasi alami yang digunakan, misalnya sampel yang akan disaring dituang kecorong yang didasarnya ditaruh kertas saring. Fraksi cairan melewati kertas saring dan padatan tinggal diatas kertas saring. Bila sampel cairan terlalu kental, filtrasi dilakukan dengan penghisapan. Digunakan alat khusus untuk  mempercepat filtrasi dengan menvakumkan penampung filtrat yang digunakan. Filtrasi dengan penghisapan tidk cocok bila cairannya adalah pelarut organic mudh menguap. Dalam kasus ini, tekanan  perharus diberikan pada permukaan
            cairan   atau     larutan.
b)       Adsorpsi
            Tidak mudah menyingkirkan partikel yang sedikit dengan filtrasi sebab partikel semacam ini akan cenderung menyumbat penyaringannya. Dalam kasus ini direkomendasikan penggunaan penyaringan yang secara selektif mengadsorpsi sejumlah kecil pengotor. Bantuan penyaring apapun akan bisa digunakan bila saringannya berpori, hidrofob atau solvofob dan memiliki kisi yang kaku. Celit, keramik diatom, dn tanah liat teraktivasi sering digunakan. Karbon teraktivasi memiliki luas permukaan yang besar dan dapat mengadsorpsi banyak senyawa organic dan sering digunakan untuk menyingkirkan zat yang berbau dari udara atau air. Silika gel dapat mengadsorpsi air dan digunakan meluas sebagai
desikan.
c)       Rekristalisasi
            Metode ini cukup sederhana, material padatan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat dengan titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh atau dekt jenuh. Ketika larutan panas perlahan didinginkan, Kristal akan mengendap karna kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan pengotor tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam larutan  tidak    terlalu  tinggi   untuk            mencapai         jenuh.

Saran   untuk   membantu       rekristalisasi     :
          Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan yang besar            pada    suhu. Kristal tidak harus dari larutan jenuh dengan pendinginan karena mungkin terbentuk super            jenuh. Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut, penggunaan pelarut polar lebih disarankan. Namun, pelarut nonpolar cenderung merupakan larutan yang buruk untuk senyawa polar. Kita harus hati-hati bila menggunakan            pelarut polar.
Pelarut dengan titik didih rendah  umumnya lebih diinginkan.  Namun, sekali lagi pelarut dengan titik didih lebih rendah biasanya nonpolar.  (Tekeuchi, 2006)
d)      Destilasi
            Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya mempunyai perbedaan titik didih yang cukup tinggi. Pada pemisahan campuran dari dua cairan yang menguap atau yang titik didihnya berdekatan lebih banyak persoalannya sehingga tidak dapat dilakukan dengan destilasi biasa.
Suatu cara yang sering digunakan untuk memperoleh hasil yang lebih baik disebut destilasi bertingkat, yaitu proses dimana komponen-komponennya secara bertingkat diuapkan dan diembunkan. Dalam proses ini campuran dididihkan pada kisaran suhu tertentu pada tekanan uap yang dilepaskan dari dalam cairan tidak murni yang berasal dari satu komponen tetapi masih mengandung campuran kedua komponen dengan komposisi yang biasanya berbeda dengan komposisi cairan yang mendidih.  Bila sebagian cairan yang telah dididihkan uapnya diembunkan, maka campuran akan terbagi menjadi tilatdua bagian. Bagian pertama terdiri dari uap yang terembun disebut destilat, dan mengandung lebih banyak komponen yang nudah menguap disbanding cairan aslinya. Bagian kedua adalah cairan yang tertinggal disebut residu, yang susunannya lebih banyak komponen yang sukar menguap. Hal ini dapat diulangi lagi beberapa kali sampai akhirnya diperoleh salah satu komponen murni yang mudah menguap.
            Pada pemisahan campuran yang membentuk larutan non ideal dapat menunjukan prilaku yang lebih rumit. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan secara menyeluruh kedalam komponen-komponennya, karena bila dididihkan campuran akan mendidih dengan konstanta campuran semacam ini disebut azeotrop, yaitu campuran yang mendidih pada suhu konstan dangan komposisi yang
   konstan.
e)       Ekstraksi
            Ekstraksi mempunyai peranan yang penting dalam laboratorium dan teknik. Di dalam laboratorium ekstraksi pelarut digunakan untuk mengambil zat-zat terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut organic yang tidak bercampur dengan fase air seperti : eter, kloroform, dan benzene. Ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan suatu spesi yang dalam larutan air terlalu encer untuk
  dianalisa.
            Dalam industri, umumnya ekstraksi pelarut digunakan dalam analisis untuk memurnikan zat-zat dari pengotor yang tidak diinginkan dalam hasil.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibedakan menjadi :
          Ekstraksi padat-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk padatan. Ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut. Banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam tertentu dalam larutan cair.
Menurut proses
pelaksanaanya ekstraksi dibedakan   menjadi:
          Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut yang sama
digunakan secara berulang-berulang sampai proses ekstraksi selesai.Ekstraksi bertahap.  Dalam ekstraksi ini selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. (Estein, 2005)

Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan dan pengidentifikasian campuran berdasarkan perbedaan suatu kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu dan pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Kertas kromatografi dibuat dari serat selulosa dan selulosa merupakan polimer dari gula sederhana, yaitu glukosa. Kompleksitas timbul karena serat-serat selulosa berintraksi dengan uap air dari atmosfir sebagaimana dalam hal air yang timbul pada saat pembuatan kertas.

Stoikiometri
Stoikiometri berkaitan dengan hubungan kuantitatif antara unsur dalam suatu senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi, pengetahuan tentang masa atom dan masa molekul dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan suatu ekperimen maupun dalam suatu perindustrian, dimana kita dapat mencampurkan zat pereaksi dalam jumlah yang sesuai serta dapat memperkirakan jumlah yang sangat besar.

Laju reaksi
Dalam ilmu kimia faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi sangat penting agar kita dapat menentukan perbedaan warna pada setiap reaksi kimia yang direaksikan dan kita juga dapat menentukan waktu yang dibutuhkan suatu reaksi dan menunjukan warna yang berbeda Oleh karena itu harus mengetahui bagaimana    hal-hal tersebut dan dilakukan dengan penuh ketelitian serta Untuk melakukan kegiatan tersebut dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan. faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dengan cara percobaan yang memperlihatkan pengaruh konsentrasi, besar partikel, temperatur dan katalis.
Laju reaksi atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi reaksi ataupun produk dalam suatu satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya sabagai konsentrasi suatu pereaksi, atau laju bertambah sebagai konsentrasi suatu produk. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol/liter, tetapi untuk reaksi fase gas, satuan tekanan atmosfer, milimeter merkurium, atau pascal, dan dapat juga di gunakan sebagai ganti konsentrasi. Pada pratikum ini penulis menggunakan satuan alat pengukur suatu laju reaksi dengan menggunakan alat yang bernama stopwatch, pada stopwatch ini menggunkan suatu satuan waktu detik, menit, dan  jam, tergantung dengan pada kecepatan suatu reaksi itu bereaksi. Laju reaksi ataupun kecepatan suatu laju reaksi dapat di pengaruhi dengan faktor-faktor yaitu besar partikel, temperatur, katalis dan konsentrasi pereaksi. 

 Titrasi Oksidasi reduksi (redoks)
Titrasi Oksidasi reduksi (redoks),merupakan bagian terbesar dari analisis volumetri karena metoda ini dapat digunakan untuk sejumlah besar unsur. Selain itu metoda ini digunakan juga untuk menentukan sejumlah zat organic. Titik akhir titrasi ditentukan dengan berbagai macam indicator visual dan cara elektrometri.
Reaksi-reaksi kimia yang melibatkan oksidasi reduksi dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetric. Ion-ion dari berbagai unsur dapat hadir dalam kondisi oksidasi yang berbeda-beda. Menghasilkan kemungkinan terjadi banyak reaksi redoks. Banyak dari reaksi ini memenuhi syarat untuk digunakan dalam analisa titrimetric dan penerapan-penerapannya cukup banyak (Day, 2002, hal: 287).
Pemisahan oksidasi reduksi terbagi menjadi komponen-komponennya, yaitu reaksi separuhnya adalah cara untuk meunjukkan masing-masing spesies yang memperoleh maupun yang menerima electron. Reaksi oksidasi reduksi berasal dari transfer langsung electron dari donor ke akseptor. Bermacam reaksi redoks dapat digunakan untuk analisis titrasi volumetric asalkan kesetimbangan yang tercapai setiap penambahan titran dapat berlangsung dengan cepat. Dan diberlakukan juga adanya indicator yang mampu menunjukkan adanya titik equivalen stoikiometri dengan akurasi yang tinggi. Banyak titrasi redoks dilakukan dengan indicator warna (Khopkar, 2007, hal: 48).



Tujuan dan Manfaat
Tujuan praktikum pemisahan dan pemurnian ini yaitu untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur, untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada dua zat atau lebih yang telah dipisahkan.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui zat murni yang dihasilkan melalui prosesnya, dan kita dapat mengetahui perubahan pada zat yang telah dipisahkan tersebut.
 Tujuan praktikum kromatografi ini yaitu untuk mengetahui bagaimana cara memisahkan dan mengidentifikasi campuran itu bisa terjadi. Selain itu kita dapat mengidentifikasi campuran berbagai jenis tinta pada kertas kromatografi.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat menambah wawasan, serta kita dapat mengetahui lebih rinci bagaimana hal tersebut dapat terjadi dan dapat digunakan pada kehidupan sehari-hari.
Tujuan praktikum stoikiometri ini yaitu untuk mengetahui temperature dari suatu zat yang belum tercampur oleh zat lain dan temperature suatu larutan. Selain itu untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi apabila konsentrasi, jumlah suatu zat berbeda maka hal yang terjadi serta perubahan setelah dilakukan berbagai perlakuan.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui cara mengukur temperature suatu zat, bagaimana hubungan bobot dalam suatu reaksi, menentukan senyawa dalam campuran dan dapat mengetahui pengaruh jumlah, konsentrasi terhadap perubahan suatu zat.
 Tujuan praktikum laju reaksi ini yaitu agar kita dapat mengetahui factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi suatu laju reaksi dan mengetahui temperature pada laju reaksi kimia untuk menunjukkan hasil reaksi tertentu.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui temperature pada laju reaksi kimia dan hasil dari reaksi.
Tujuan praktikum titrasi reduksi oksidasi (redoks) yaitu untuk menentukan titrasi redoks secara oksidimetri.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat menentukan titik akhir dari titrasi.























TINJAUAN PUSTAKA
Pemisahan dan Pemurnian
Larutan cairan dapat dibuat dengan melarutkan gas, cairan, atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagian cairan  adalah air, maka larutan disebut larutan berair. Larutan padatan adalah padatan –padatan dalam satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau molekul dari komponen lainnya (Sastrohamidjojo, 2005).
Kristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat tersebut atau zat pada tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut. Cara ini bergantung pada kelarutan pada kelarutan  zat dalam pelarut tertentu dikala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap (Arsyad, 2001).
Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut yang sama digunakan secara berulang-berulang sampai proses ekstraksi selesai.Ekstraksi bertahap.  Dalam ekstraksi ini selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. (Estein, 2005)
Garam dapur dan natrium klorida atau NaCL. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCL dengan NaOH berair. NaCL nyaris tak dapat larut dalam alkohol, tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutan sangat kecil dengan suhu (Arsyad, 2001).
Ada beberapa cara pemisahan campuran : filtrasi pemisahan zat padat dari cairan melalui saringan yang berpori. Kristalisasi pemisahan untuk memperoleh zat padat yang larut dalam cairan. Terbagi 2 yaitu : penguapan dan pendinginan. Destilasi cara memperleh cairan yang dikotori zat terlarut dan becampur dengan cairan lain yang titik didihnya berbeda (Ronald sitorus, 2002).
Zat padat umumnya mempunyai titik lebur yang tajam, sedangkan zat padat amorf akan melunak dan kemudian melebur dalam rentangan suhu yang besar. Partikel zat padat amorf sulit dipelajari karena tidak teratur. Oleh sebab itu, permbahasan zat padat hanya membicarakan kristal (Syukri, 2000).
Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kriistal-kristal yang terbentuk selama berlangsung pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali makin cepat kristal itu akan turun keluar dari larutan yang lagi-lagi akan membantu penyaringan (Svehla, 2000).
Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi pendinginan (Nisa halimah.2009).

Kromatografi
Kromatografi adalah pemisahan campuran komponen-komponen didasarkan pada perbedaan tingkat interaksi terhadap dua fasa material pemisah. Campuran yang akan dipisahkan dibawa fasa gerak, yang kemudian dipaksa bergerak atau disaring melalui fasa diam karena pengaruh gaya berat atau gaya-gaya yang lain. Komponen-komponen dari campuran ditarik dan diperlambat oleh fasa diam pada tingkat yang berbeda-beda sehingga mereka bergerak bersama-sama dengan fasa gerak dalam waktu retensi (retention time) yang berbeda-beda dan dengan demikian mereka terpisah (Bambang, 2000).
Kromatografi menurut J . Marray (2004) adalah suatu tekhnik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola gerak antara dua fase , yaitu fase gerak dan fase diam itu berguna untuk memisahkan komponen yang berada pada larutan
(Joko, 2008:157), menyatakan bahwa semakin banyak tinta yang diteteskan , maka semakin lebar pula resapan tintanya. Dan penetesan tintanya jangan terlalu banyak akan mengakibatkan melebarnya tinta warna yang sangat banyak.
Kromatografi adalah Suatu metoda untuk separasi yang menyangkut komponen suatu contoh di mana komponen dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang mana adalah keperluan selagi gerak yang lain . Di dalam gas chromatography adalah gas mengangsur suatu cairan atau tahap keperluan padat. Di dalam cairan chromatography adalah campuran cairan pindah gerakkan melalui cairan yang lain , suatu padat, atau suatu 'gel' agar. Mekanisme separasi komponen mungkin adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange, penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain (David. 2001)
Pada kromatografi sesuatu zat cair dapat di indentifikasi dengan daya serap nya (J. Marray, 2004).
Metode kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan secara fisika yang menggunakan dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Pemisahan ini terjadi karena adanya perbedaan migrasi yang disebabkan oleh beda koefisien distribusi dari masing-masing komponen. Salah satunya merupakan lapisan stasioner (fase diam) dengan permukaan yang luas dan fase yang lain berupa zat alir (fluida) yang mengalir lambat menembus sepanjang lapisan stasioner (annisa 2000 : 117).
Menurut Yasid (2005),  menyatakan bahwa fase diam adalah fase kromagtografi yang berfungsi sebagai penyerapan dan fase tersebut cenderung menahan komponen campuran.
           
Secara fisik kromatografi kertas memiliki teknik-teknik yang sama dengan kromatografi lapis tipis, tetapi sebenarnya merupakan tipe khusus kromatografi cair-cair yang fasa diamnya hanya berupa air yang diadsorpsikan pada kertas dimana kertas hanya bertindak sebagai pendukung. Tekniknya sangat sederhana dengan menggunakan lembaran selulosa yang mengandung kelembaban tertentu. Cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan pada pinggir kertas selulosa yang telah diatur sedemikian rupa selanjutnya dimasukkan ke dalam bejana pengembang dan dijaga agar atmosfer dalam bejana selalu jenuh dengan fase gerak (Rudi, 2010).


Stoikiometri
Thomas (2005), menyatakan bahwa stoikiometri dari suatu senyawa dapat memperlajari dalam kinetika kimia.
Michael Purba (2005), menyatakan bahwa stoikiometri adalah pengetahuan tentang masa atom dan masa molekul.
J.A Hunt (2004), menyatakan bahwa stoikiometri dari suatu senyawa dinyatakan dalam rumus kimia.
Sudjiwo (2007), menyatakan bahwa perubahan temperatur pada stoikiometri dapat dihitung dengan suhu akhir dikurang suhu awal.
Penicum aracis (2002), menyatakan stoikiometri ialah salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan dan komposisi-komposisi dari suatu zat dan nilainya.
Stokes B.J (2004), menyatakan bahwa stoikiometri mempunyai peranan sangat penting dalam pengembangan suatu eksperimen maupun dalam suatu perindustrian, dimana kita dapat mencampurkan zat pereaksi dalam jumlah yang sesuai serta dapat memperkirakan jumlah yang sangat besar.
            Stoikiometri dari suatu senyawa dapat mempelajari dalam kinetika kimia. (Raymond, 2002 )
Wilson (2001), menyatakan bahwa temperature suatu zat yang telah di amati dapat menghasilkan suhu berbeda dengan suhu awal. Berhitungan jika bertautan dengan cara yang hasilnya memiliki ketetapan.       
stoikiometri adalah pengetahuan tentang masa atom dan masa molekul. (Davide, 2003)
Departemen pendidikan dan kebudayaan, menyatakan bahwa Stiokiometri berkaitan dengan hubungan kuantitatif antara unsur dalam suatu senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi.
           
Laju reaksi
Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi atau pun produk dalam suatu waktu ( Syuki. 2001).
Aswad (2001) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi  adalah benda-benda yang mempengaruhi konsentrasi, besar partikel dan temperatur atas laju reaksi.
Kenaikan temperatur dalam suatu reaksi juga mempengaruhi suatu laju reaksi, kenaikan suhu sebesar 10 derajat celcius dari temperatur sebelumnya akan mempengaruhi laju suatu reaksi, dimana laju reaksi akan meningkat menjadi dua kali lebih cepat dari yang sebelumnya (Hendrayan. 2006).
Berhasil atau gagalnya suatu proses  komersial untuk menghasilkan suatu senyawa sering tergantung pada penggunaan katalis yang cocok. Selang suhu dan tekanan yang dapat digunakan dalam proses industry tidak mungkin berlangsung dalam reaksi biokimia. Tersedianya katalis yang cocok untuk reaksi-reaksi ini mutlak bagi makhluk hidup (Hiskia,2002).
Bila unsur dipanaskan maka laju reaksi juga semakin cepat dan maka dari itu hubungan unsur tersebut semakin erat sehingga unsur-unsur baru juga cepat terbentuk (Saliaman. 2006 ).

Ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat, seperti perkaratan besi atau fosilisasi sisa-sisa organisme. Selain itu, laju reaksi kimia ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu, konsentrasi, dan faktor lainnya (Priyatna, 2001)

Laju didefinisikan sebagai laju pengurangan konsentrasi molar salah satu pereaksi atau laju pertambahan konsentrasi molar salah satu produk dalam satu-satuan waktu. Sebaliknya pada larutan yang dipanaskan dipengaruhi oleh temperatur (Tim penyusun kimia dasar, 2009).

Pada temperatur tetap laju reaksi tergantung pada konsentrasi zat pereaksi semakin tinggi , maka konsentrasi zat pereaksi semakin cepat reaksi terbentuk ( Wiskia. 2001).
Bila partikel semakin banyak akibatnya lebih banyak kemungkinan partikel saling bertumbukan yang terjadi dalam suatu larutan sehingga reaksi bertambah cepat ( Herman. 2007).
Konnaso (2001) mengatakan, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah pengaruh konsentrasi, pengaruh besar partikel atas laju reaksi, pengaruh temperatur atas laju reaksi, pada temperatur-temperatur atas laju reaksi ini tergantung pada zat-zat pereaksi.
Sifat dan ukuran pereaksi. Semakin reaktif dari sifat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah atau reaksi berlangsung semakin cepat.  Semakin luas permukaan zat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah,  hal ini dapat dijelaskan dengan semakin luas permukaan zat yang  bereaksi maka daerah interaksi zat pereaksi semakin luas juga. Permukaan zat pereaksi dapat diperluas dengan memperkecil ukuran pereaksi. Jadi untuk meningkatkan laju reaksi,  pada zat pereaksi dalam bentuk serbuk lebih baik bila dibandingkan dalam bentuk bongkahan (Petrucci, 2007).

Titrasi oksidasi dan reduksi
Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya, dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinue ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree (Thomas, 2003).
Pada proses titrasi digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady, 2009).
Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) & jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum & sesudah titrasi. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu dengan memakai pipet gondok. Untuk mengamati titik ekivalen, dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. Dalam titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri, 2009).
Didalam beberapa titrasi, titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrant telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree. Salah satu masalah teknis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati, terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen (Kuncoro, 2001).
Secara ideal, titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik, tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama, meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder, 2006).
Batasan yang lebih umum dari reaksi oksidasi reduksi adalah berdasarkan pemakaian bilangan oksidasi pada pemakaian bilangan oksidasi pada atom karbon dengan cara memasukkan bilangan oksidasi pada keempat ikatannya. Contohnya atom H yang berikatan dengan C mempunyai bilagan oksidasi 0, dan atom C mempunyai bilangan oksidasi +1 jika berikatan tunggal pada heteroatom seperti oksigen, nitrogen atau sulfur (Riswiyanto, 2009, hal: 108).
Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yg diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir. Kesalahan titik akhir adalah kesalahan acak yang berbeda untuk setiap sistem. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri, kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai, 2005).
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia di mana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai dengan hilangnya electron sedangkan reduksi memperoleh electron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling mengkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atonya saja. Jika suatu reagen berperan baik sebagai oksidator dan redukstor maka dikatakan zat tersebut mengalami autooksidasi atau disproporsionasi (Khopkar, 2007, hal: 48).
Potensial system redoks merupakan peubah yang paling khas yang berubah selama berlangsungnya titrasi redoks. Karena itu, potensial yang diukur dapat dibuat pada kertas grafik sebagai fungsi volume peniteryang ditambahkan sehingga diperoleh kurva titrasi redoks. Sedangkan titrasi dapat dengan persamaan ners, yaitu hubungan antara potensial elektroda baku kedua pasangan redoks dan kesetimbangan massanya. Biasanya kurva teoritis ini bersesuaian dengan kurva yang diperoleh dengan percobaan. Karena itu, kurva teoritis ini sangat berguna untuk meramalkan ketelitian pengukuran, memilih indicator dan memilih persyaratan titrasi yang bersesuaian (Rivai 1995, hal: 347).
Menurut Petrucci (2007), langkah dasar dalam metode untuk menyetarakan redoks yaitu:
a.       Tuliskan dan setarakan persamaan setengah terpisah untuk oksidasi dan reduksi
b.      Sesuaikan koefisien pada kedua persamaan setengah sehingga elektronnya sama banyak disetiap persamaan setengah
c.       Tambahkan kedua persamaan setengah (hapuskan electron) untuk memperoleh persamaan keseluruhan yang setara.
Prinsip yang sama menyetarakan persamaan berlaku pada persamaan oksidasi reduksi (redoks) sebagaimana dengan persamaan lain menyetarakan dengan banyaknya atom dan menyetarakan muatan listrik. Namun, sering sedikit sulit untuk mengaplikasikan prinsip ini pada persamaan redoks. Faktanya hanya sebagian kecil persamaan redoks yang dapat disetarakan dengan pengamatan sederhana. Memerlukan pendekatan sistematik dan meskipun beberapa metode tersedia, ditekankan bahwa salah satu yang mempertimbangkan reaksi keseluruhan  yang terjadi sebagai gabungan reaksi setengah yang terpisah untuk reaksi oksidasi dan reduksi (Petrucci, 2007, hal: 154).

MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
Pratikum Kimia Dasar ini dilaksanakan setiap hari Minggu mulai dari tanggal 09 November 2014 sampai dengan 21 Desember 2014 pada waktu yang disesuaikan setiap minggunya s/d selesai, yang bertempat di Laboratorium Saintek, Universitas Jambi.


Materi
Pada praktikum Pemisahan dan Pemurnian, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu gelas kimia, corong, cawan penguap, gelas ukur 50 ml, pembakar, kaca erloji, kertas saring, ., garam dapur, yod, kapur tulis, dan pasir.
Pada pratikum Kromatografi, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu kertas kromatografi, gelas kimia, lidi, dan tinta biru, merah, hitam.
Pada praktikum Stoikiometri, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu tabung reaksi, gelas kimia, gelas piala, thermometer, larutan HCl, larutan NaOH 2 M, dan larutan
Pada praktikum Laju Reaksi, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu: Pada kegiatan 1a, labu 100 ml, balon, stopwatch, butiran seng dan larutan asam klorida. Pada kegiatan 2b, balon, tabung ukur 100 ml, labu ukur 100 ml, mortar, marmer, dan larutan HCl. Pada kegiatan 3a, pipet tetes 3 buah, gelas kimia 150 ml, tabung ukur 25 ml, tabung reaksi kecil, penjepit tabung reaksi, rak tabung reaksi, stopwatch, larutan asam oksalat 0,05 M, kalium permanganat 0,01 M, asam sulfat 0,5 M. Pada praktikum 3b, pipet tetes 2 buah, gelas kimia 150 ml, tabung reaksi, rak tabung reaksi, stopwatch, larutan natrium tiosulfat 0,15 M, dan larutan asam klorida 3 M.
Pada praktikum Titrasi oksidasi dan reduksi, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu  pipet 25 ml, buret 50 ml, labu titrasi 250 ml, labu takar, larutan asam oksalat, Larutan , dan pembakar.



Metoda
Pemisahan dan pemurnian
Pada praktikum pemisahan dan pemurnian langkah kerja pertama yaitu masukkan  1 sendok pasir ke dalam gelas kimia yang telah berisi 25 ml air, kemudian di aduk. Biarkan pasir mengendap ,kemudian tuangkan larutan bagian atas.
Langkah kerja Kedua masukkan bubuk kapur tulis ke dalam gelas kimia yang berisi 50 ml air, kemudian di aduk. Siapkan corong dan kertas saring, lalu lakukan penyaringan.
Langkah kerja ketiga Larutkan garam dapur dalam gelas kimia yang berisi 50 ml air, kemudian larutkan garam ini disaring dengan menggunakan kertas saring. Uapkan larutan garam yang telah di saring ini dalam cawan penguapan.
Langkah kerja keempat Larutkan 10 gram garam. ke dalam 50 ml air. Uapkan larutan ini sehingga volum menjadi 20 ml, kemudian di dingin kan. Perhatikan bentuk Kristal yang terjadi.
Langkah kerja kelima Campurkanlah 1 sendok pasir ke dalam gelas kimia dan 1 sendok garam dapur sampai homogen, dan masukkan ke dalam gelas kimia. Panaskan campuran ini kemudian saring. Zat padat yang tertinggal di corong di cuci dua sampai tiga kali dangan 5 ml air. Air saringan dan cucian di satukan, kemudian di uapkan dalam cawan penguapan.  Jika air nya hampir habis, handaknya pembakar di sisihkan sebentar dan biarkan air menguap sendiri.         Langkah kerja keenam masukkan  2 gram yod yang kotor ke dalam cawan penguapan. Tutup cawan penguapan tersebut dengan kaca erloji yang berisi air. Panaskan perlahan-lahan sampai terbentuk zat padat pada alat kaca erloji. Sesudah di dinginkan kumpulkan Kristal-kristal tersebut. Perhatikan bentuk Kristal yang terbentuk.

kromatografi
Pada praktikum kromatografi langkah kerja nya yaitu Pertama, buatlah garis dengan pensil 1 cm dari ujung bawah keatas. Kromatografi (kertas saring). Kedua, buat titik dengan tinta hijau di tengah garis. Ketiga, buat titik dengan tinta lain di sebelah kiri dan disebelah kanan titik hijau pada jarak 2cm. biarkan sampai kering. Keempat, gulung kertas berbentuk silinder. Kelima, tempatkan kertas dalam gelas kimia yang berisi air setinggi 1cm, sehingga ujung kertas tercelup dalam air (jaga sehingga titik tersebut agar tidak tercelup dalam air). Keenam, biarkan air merambat ke bagian atas kertas. Zat warna dalam tinta akan ikut merambat naik. Ketujuh, jika air sudah merambat mendekati ujung kertas, keluarkan kertas. Beri batas rambat air. Kedelapan, perhatikan noda-noda zat warna dalam tinta. Biarkan kertas saring menjadi kering. Kesembilan, ukur jarak batas air dan jarak tiap noda zat warna, dari garis pensil pada ujung bawah keatas. Kesepuluh, hitung harga perbandingan kedua jarak =  .  Kesebelas, buat kromatograf dari titik tinta yang tidak dikenal, misalnya campuran dua macam tinta.

Stoikiometri
Pada praktikum stoikiometri langkah kerja yang Pertama,  stoikiometri system CuSO4 – NaOH. Gunakan larutan 1 M dan NaOH 2 M. Masukan 8 ml NaOH kedalam gelas kimia dan catat temperaturnya. Sementara diaduk, tambahkan 5 ml yang diketahui temperature awal dan amati temperature dari campuran. Ulangi percobaan, menggunakan 6 ml NaOH dan 7 ml CuSO4, sekali lagi menggunakan 5 ml Naoh dan 8 ml CuSO4, akhirnya menggunakan 7 ml NaOH dan 6 ml CuSO4.
Langkah kerja yang Kedua, stoikiometri asam-basa. Kedalam 3 buah gelas piala masukkan berturut-turut 2, 4, dan 6 ml larutan NaOH, dan kedalam 3 buah gelas piala lainnya masukkan berturut-turut 8, 6, dan 4 ml Hcl. Temperature dari tiap tiap larutan diukur, dicatat, kemudian dirata-ratakan. Setelah itu kedua macam larutan ini dicampurkan sedemikian rupa, sehingga volume campuran nya selalu tetap yaitu 10 ml. Perubahan temperature yang terjadi selama pencampuran dicatat sebagai temperature akhir. Selanjutnya, buat grafik antara  (sumbu Y) dan volume asam-basa (sumbu X). Lakukan percobaan yang sama terhadap campuran NaOH  dan Perbedaan apakah yang mungkin terdapat jika dibandingkan terhadap percobaan sebelumnya.

Laju Reaksi
Pada praktikum laju reaksi langkah kerja 1a reaksi antara seng dan asam klorida Yang pertama isikan seng sebanyak 1 gr kedalam balon, kemudian pasang balon itu pada labu yang mengandung 8 ml larutan asam klorida 1 M. kedua jalankan stopwatch tepat pada saat seng itu dijatuhkan kepada larutan asam klorida dan hentikan stopwatch itu tepat pada saat balon itu dapat berdiri. Ketiga, lakukan hal yang sama dengan larutan asam klorida 1,8 M, 3 M, dan 6 M. Keempat catat hasil pengukuran waktu yang dicapai itu pada lembaran pengamatan.
Pada langkah kerja  2b reaksi antara kalium karbonat dan asam klorida yang pertama isi balon denga 1 gr marmer butiran dan pasang balon itu pada labu yang sebelumnya telah diisi dengan 8 ml asam klorida 1 M. kedua reaksikan marmer itu dengan menjatuhkannya didalam asam klorida itu. Ukur waktu yang diperlukan agar balon itu terisi dengan karbondioksida. Ketiga, lakukan hal yang sama dengan 2 gr marmer yang telah digerus halus. Keempat, bandingkan hasil pengamatan pengukuran waktu yang diperoleh itu dan terangkan.
Pada langkah kerja 3a reaksi antara kalium permanganat dan asam oksalat. Yang pertama encerkan 50 tetes larutan asam oksalat dengan air hingga menjadi 25 ml ( Larutan A ). Lakukan hal yang sama dengan larutan permanganat ( Larutan B ). Kedua, Kemudian dalam suatu tabung reaksi kecil bubuhkan kepada 2 tetes larutan A, 2 tetes larutan asam sulfat 0,5 M dan 1 tetes larutan B. Jalankan stopwatch ketika tetes terakhir ini ditambahkan. Ukur waktu yang diperlukan agar warna larutan hilang. Ketiga, panaskan tabung reaksi yang mengandung 2 tetes larutan A dan 2 tetes larutan asam sulfat 0,5 M dalam air mendidih selama 10 detik. Kemudian tambahakan  1 tetes larutan B, dan catat waktu yang diperlukan agar warna kalium permanganat itu hilang. Keempat, terangkan hasil – hasil yang didapat itu, dalam lembara pengamatan.
Pada langkah kerja 3b reaksi antara kalium permanganate dan asam oksalat. Yang pertama buat tanda hitam pada sehelai kertas putih dan tempatkan sebuah tabung reaksi diatas tanda itu. Kedua, kedalam tabung itu bubuhkan 2 tetes larutan natrium tiosulfat 0,15 M dan 2 tetes larutan asam klorida 3 M. ukur waktu yang diperlukan untuk mengaburkan tanda hitam itu. Ketiga, kedalam tabung reaksi lain bubuhkan 2 tetes larutan natrium tiosulfat 0,15 M dan celupkan tabung itu selama 10 detik dalam air mendidih. Kemudian taruh tabung itu diatas tanda hitam tadi, bubuhkan 2 tetes asam klorida 3 M, dan amati waktu yang diperlukan untuk mengaburkan tanda hitam itu. Keempat, catat semua pengamatan pada lembaran pengamatan dan terangkan hasil-hasil yang didapat.

Titrasi okidasi dan reduksi
Pada praktikum titrasi reduksi dan oksidasi langkah kerja yang Pertama Pipet 10 ml larutan asam osalat standar kedalam labu titrasi. kedua, tambahkan 20 ml air dan tambahkan 2 ml 2 M. Ketiga, panaskan sampai hampir mendidih (). Keempat, titrasi dengan larutan sehingga terjadi perubahan warna (perhatikan pada awal titrasi warna tidak segera hilang).









HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemisahan dan Pemurnian
Hasil percobaan pertama sebelum dicampurkan pasir dan air berwarna bening. Setelah dicampur dan diaduk rata warna airnya menjadi keruh dan pasirnya mengendap dibagian bawah. Ini memakai cara dekantasi terjadinya pemisahan yang jelas. Percobaan ini sesuai dengan pendapat Wong (2011) yang mengatakan dekantasi merupakan pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan cara dituangkan secara langsung.
Setelah bubuk kapur tulis dilarutkan dalam air, warna air berubah menjadi keruh, Setelah disaring dengan kertas penyaring, hasil penyaringan tersebut  berubah warna menjadi jernih. Percobaan ini terjadi dalam proses filtrasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilo, Tri (2011) bahwa filtrasi merupakan pemisahan komponen-komponen dengan menggunakan filter.
Pada pemisahan garam dapur, Setelah garam dapur dilarutkan kedalam air yang terjadi yaitu garam larut dalam air, namun setelah disaring masih ada garam yang tertinggal pada kertas saring, hal ini disebabkan karena partikel garam masih ada yang tidak larut. warna air tetap jernih. Setelah larutan dipanaskan warna larutan berubah dan berkurang volume nya karena menguap. Setelah didinginkan terdapat Kristal-kristal garam yang melekat pada dinding cawan penguap, garam dan airnya terpisah. Percobaan ini terjadi dalam proses kristalisasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Keenan (2000) bahwa kristalisasi dapat dilakukan untuk memisahkan zat cair dan zat padat yang saling larut. Pada kristalisasi larutan pekat didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal. Hal itu terjadi karena kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan, apabila tidak cukup pekat dapat dipekatkan terlebih dahulu dengan jalan penguapan, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan.
 Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. NaCl nyaris tak dapat larut dalam alkohol, tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal: suatu garam yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang dapat digusur. Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu netral terhadap indikator semisal lakmus. Garam rangkap; garam yang terbentuk lewat kristalisasi dari larutan campuran sejumlah ekivalen dua atau lebih garam tertentu. Dalam larutan, garam ini merupakan campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan mengion jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas berbeda dengan garam kompleks yang menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan (Arsyad, 2001).
Setelah garam CuSO4 . 5H2O dilarutkan kemudian dipanaskan, setelah volumenya berkurang sebagian. Kemudian didinginkan, setelah larutan itu dingin terlihat kristal2 disekeliling cawan yang halus dan bewarna putih. Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi pendinginan (Nisa halimah.2009).
Setelah garam dapur dan pasir dicampurkan dengan air, air hasil campuran terlihat keruh, kemudian setelah disaring warna air menjadi jernih kembali, dan setelah hasil penyaringan dipanaskan hingga air mulai habis kemudian  didinginkan cairan tersebut membentuk Kristal-kristal. Syarat utama tebentuknya Kristal daru suatu larutan adalah larutan induk harus dibuat dalam kondisi lewat jenuh. Kondisi lewat jenuh dalah kondisi dimana pelarut mengandung zat terlarut melebihi kemampuan pelarut tersebut untuk melarutkan zat terlarut pad suhu tetap (Fessenden,2002).
            Setelah yod dicampur dengan pasir dan dipanaskan serta ditutup dengan kaca erloji yang diberi sedikit air pada bagian atasnya. Beberapa menit kemudian yod menguap pada kaca erloji dan memebentuk zat padat (Kristal-kristal)pada bagian kaca. Kristal tersebut berwarna ungu.




Kromatografi
Hasil yang diperoleh dari praktek dapat diketahui sebagai berikut
Air biasa
Warna tinta
Warna noda
    Jarak noda 
     Jarak air
Biru
Biru muda

Biru
 0,67

0,9
Hijau
Hijau

Hijau muda

Kuning

Biru muda
 0,82
= 0,25
= 0,3

= 0,7
merah
Merah

Merah muda

 = 0,8
 = 0,5

Air Aquades
Warna tinta
Warna noda
    Jarak noda 
     Jarak air
Biru
Biru muda

Biru
 0,67

0,9
Hijau
Hijau

Hijau muda

Kuning

Biru muda
 0,82
= 0,25
= 0,3

= 0,7
merah
Merah

Merah muda

 = 0,8
 = 0,5

 (fransisco, 2004) berpendapat bahwa Semakin tinggi volume larutan NaOH semakin rendah temperature yang dihasilkan dan Semakin rendah volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperature yang dihasilkan. Semakin bannyak tinta yang diteteskan , maka semakin lebar pula resapan tintanya. Dan penetesan tintanya jangan terlalu banyak akan mengakibatkan melebarnya tinta warna yang sangat banyak
Jadi kesimpulannya, dari hasil percobaan bahwa jarak dari air pada tiap zat warna tidak sama dan juga jarak noda yang ikut merambat naik juga tidak ada yang sama. Selain itu dapat disimpulkan pula bahwa warna dari tinta yang merambat lebih muda dari warna tinta yang pertama kali diteteskan pada kertas.

(Joko, 2008:157), menyatakan bahwa semakin banyak tinta yang diteteskan , maka semakin lebar pula resapan tintanya. Dan penetesan tintanya jangan terlalu banyak akan mengakibatkan melebarnya tinta warna yang sangat banyak.




Stoikiometri
Pengamatan Stoikiometri CuSO4 – NaOH
NaOH – CuSO4

Ml                Ml

TM

TA

∆T
  5                   2
  4                   3
  3                   4
  2                   5
29
27
26
26
29
28
27
26
29 -29 ꞊ 0
28 – 27 ꞊ 1
27 – 26 ꞊ 1
26 – 26 ꞊ 0



Stoikiometri Asam – Basa
a.       NaOH – HCL
NaOH – HCL

Ml                Ml

TM

TA

∆T
  2                   8

  4                   6

  6                   4
27

27

27
30

38

28
3

11

1


Grafik pengamatan stoikiometri NaOH-HCl


b. NaOH_H2SO4
NaOH_H2SO4
  Ml            Ml
TM
TA
  2                  4
26
26
0
  4                  2
26
27
1


Grafik pengamatan stoikiometri NaOH_H2SO4

Stoikiometri CuSO4-NaOH
Semakin tinggi volume larutan NaOH semakin rendah temperatur yang dihasilkan dan semakin rendah volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperatur yang dihasilkan. Pada pencampuran larutan tersebut dengan perbedaan volume antara NaOH dengan CuSO4, menghasilkan perubahan warna yang berbeda-beda. pencampuran 5 ml NaOH dengan 2 ml CuSO4 menghasilkan warna biru tua serta wujudnya menjadi lebih kental dari sebelumnya, hal ini terjadi karena larutan yang terbentuk tidak tepat jenuh. Pada pencampuran 4 ml NaOH dengan 3 ml CuSO4 menghasilkan warna biru dan terbentuk gumpalan dikarenakan larutan tersebut tepat jenuh. Pada pencampuran 3 ml NaOH dengan 4 ml CuSO4 menghasilkan larutan warna hijau costa dan terdapat endapan dibagian bawahnya. Pada pencampuran 2 ml NaOH dengan 5 ml CuSO4 menghasilkan warna biru dan tidak terjadi perubahan wujud dikarenakan larutan tersebut lewat jenuh.
Dari hasil yang diperoleh maka dapat diketahui jika semakin banyak volume NaOH yang dicampurkan maka semakin gelap warna yang dihasilkan. Semakin sedikit volume CuSO4 yang dicampurkan maka semakin gelap warna campuran. Pengaruh variasi volume terhadap suhu yaitu semakin banyak volume NaOH yang dicampurkan maka suhu yang terbentuk juga semakin tinggi.


Stoikiometri NaOH – HCL
Semakin tinggi volume asam Maka suhu semakin rendah, semakin rendah volume asam maka suhu semakin tinggi dan semakin tinggi basa, maka suhu rendah.
Percobaan di atas menggunakan reagen NaOH yang bersifat basa dan larutan HCL yang bersifat asam yang apabila kedua larutan dicampurkan akan didapat garam NaCl yang kemudian diukur suhunya menggunakan thermometer agar dapat diketahui suhu setelah dicampurkan kemudian diaduk agar kedua larutan dihomogenkan.
Pada percobaan kedua digunakan reagen NaOH 1 M yang bersifat basa dan  yang bersifat asam. Yang apabila dicampurkan akan menjadi garam  dan juga digunakan akuades untuk mengencerkan larutan NaOH dan  menjadi 1 M. percobaan kedua dilakukan dengan mencampurkan larutan kemudian diaduk agar larutan menjadi homogen kemudian diukur suhunya agar dapat diketahui tinggi suhunya. Percobaan kedua juga dilakukan tiga perlakuan berbeda yang pertama yaitu mencampukan 2 ml NaOH dengan 6 ml  dan didapat suhu NaOH adalah 28  , suhu  dan suhu campurannya reaksi ini termasuk dalam reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan  sebagai pereaksi sisa. Perlakuan kedua adalah dengan mencampurkan 4 ml NaOH dan 4 ml  dan didapat suhu NaOH adalah  , suhu adalah  dan suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga termasuk dalam reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan  sebagai pereaksi sisa. Pada perlakuan ketiga dicampurkan 6 ml NaOH dan 2 ml  dan didapat suhu NaOH adalah , suhu  adalah  dan suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga merupakan reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi dan sebagai pereaksi pembatas. Dan pada percobaan kedua ini didapat titik maksimumnya  dan titik minimumnya .
Dari kedua percobaan diatas dapat kita buat garfik suhu terhadap jumlah volume masing – masing reagen. Pada grafik 4.3.1 dapat kita lihat apabila semakin banyak pereaksi yang beraksi atau semakin sedikit pereaksi yang bersisa maka perubahan suhu semakin tinggi sehingga pada percampuran 4 ml NaOH 1 M dan 4 ml HCL 1 M merupakan suhu tertinggi karena reaksi tersebut merupakan reaksi stoikiometri. Dan pada grafik 4.3.2 juga membuktikan semakin sedikit konsentrasi pereaksi sisa  semakin tinggi perubahan suhunya. Dan didapat tertinggi pada campuran 6 ml NaOH dan 2 ml .
Dalam praktikum ini terdapat beberapa factor kesalahan yang membuat hasil percobaan kurang akurat yaitu ketika pengukuran suhu menggunakan thermometer.Thermometer mengenai dinding gelas kimia dan tangan pada saat memegang thermometer kurang ke atas, selain itu suhu ruangan yang kurang stabil serta pipet yang digunakan telah di gunakan pada larutan. 
Dalam percobaan reagen dimasukkan kedalam gelas kimia, di ukur sesuai volume yang diperlukan. Dan diukur menggunakan thermometer, hal ini berfungsi  agar mendapatkan suhu yang akurat dari masing – masing reagen dengan volume yang berbeda. Lalu reagen dicampur dan diguncang sedikit agar reagennya tercampur. Kemudian diukur suhu campurannya dengan thermometer agar dapat diketahui suhu campuran tertinggi dan dapat ditentukan yang stoikiometri.

Kesimpulan
Stoikiometri CuSO4
Semakin tinggi volume larutan NaOH semakin rendah temperatur yang dihasilkan dan semakin rendah volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperatur yang dihasilkan.

Stoikiometri NaOH – HCL
Semakin tinggi volume asam Maka suhu semakin rendah, semakin rendah volume asam maka suhu semakin tinggi dan semakin tinggi basa, maka suhu rendah.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi
Pengaruh konsentrasi pada laju reaksi
·         Reaksi antara seng dan asam klorida
Konsentrasi HCl
Waktu
3 M
3 menit.10 detik

·         Reaksi antara kalium karbonat dan asam klorida
Pengamatan marmer halus
Marmer
HCl
Waktu
1 gr
8 ml
7 menit.12 detik
2 gr
8 ml
7 menit.12 detik

Pengamatan marmer kasar
Marmer
HCl
Waktu
1 gr
8 ml
27 menit
2 gr
8 ml
27 menit

            Reaksi antara seng dan asam klorida dinyatakan gagal karena balon yang dipasang pada labu 100 ml tidak dapat naik. Hal itu dikarenakan konsentrasi dan volume asam klorida yang digunakan kecil. Semakin kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil. (Anis Dyan R dan Waijinan : 2009).
Jadi kesimpulannya yaitu : semakin besar molar suatu zat, semakin cepat laju reaksi terjadi. Bird (2000) mengatakan, bahwa kecepatan reaksi tergantung pada ion yang mengandung asam dan dengan adanya natrium tiosulfat maka akan membebaskan iodium telah diasamkan dengan asam sulfat.
semakin besar temperatur yang diberikan, maka semakin cepat laju reaksi yang berlangsung. Dan juga semakin besar molaritas, maka semakin cepat konsentrasinya. Konnaso (2000) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah pengaruh konsentrasi, pengaruh besar partikel atas laju reaksi, pengaruh temperatur atas laju reaksi pada temperatur atas laju reaksi reaksi ini tergantung pada zat-zat pereaksi. Whiskia (2004) mengatakan bahwa salah satu metode penentuan orde reaksi menurut waktu dan reaksi awal dari sederajat percobaan . metode membutuhkan pemetaan yang tepat dari fungsi konsentrasi pereaksi antara waktu yang dipergunakan untuk mendapatkan hasil yang tepat.



Titrasi Oksidasi dan Reduksi

Tabel pengamatan
Titrasi
Kedudukan Buret :
-          Setelah titrasi
-          Awal titrasi
Jumlah KMnO4 yang digunakan

18-32
0-18
32 ml

15 ml larutan asam oksalat memerlukan 4 mL KmnO4. asam Oksalat yang telah panaskan sekitar suhu 80 derajat  celcius akan berunah warna dan terdapat endapan pada dasar labu setelah dicampurkan 4 ml KMnO4.




PENUTUP
Kesimpulan
Pemisahan dan pemurnian ada beberapa cara pemisahan  campuran yaitu filtrasi, kristalisasi, destilasi. Jadi suatu larutan yang dicampurkan dengan air dan kemudian disaring terdapat perbedaan dan hasil saringan tersebut dipanaskan akan terlihat beberapa kristal. Sebagai contoh garam ini merupakan suatu komponen. Bila suatu campuran yod dengan natrium karbonat dapat menimbulkan kristal yang berwarna ungu. Begitupula dengan campuran garam dan pasir, air yang awalnya bening semakin disaring dan dicuci  air saringan tersebut semakin pekat.
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan dan pengidentifikasian campuran berdasarkan perbedaan suatu kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu dan pada kromatografi, komponen-komponenya akan dipisahakan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Difase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen diam yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal dan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan dapat bergerak lebih cepat.
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan suhu, warna dan endapan (wujud) dapat terjadi jika 2 zat dicampurkan. Pada stoikiometri system perubahan temperature dipengaruhi oleh besarnya volume campuran, dan pada stoikiometri asam dan basa perubahan suhu tidak dipengaruhi oleh volume. Pada Stoikiometri  Semakin tinggi volume larutan NaOH semakin rendah temperatur yang dihasilkan dan semakin rendah volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperatur yang dihasilkan. Pada Stoikiometri NaOH – HCL Semakin tinggi volume asam Maka suhu semakin rendah, semakin rendah volume asam maka suhu semakin tinggi dan semakin tinggi basa, maka suhu rendah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah semakin besar temperatur yang diberikan maka semakin cepat laju reaksi yang berlangsung. Dan juga semakin besar molaritas maka semakin cepat konsentrasinya. Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan laju raksi dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi baru.
Semakin  lama uapannya bertambah,telah beberapa lama dilakukan pembakaran selama kurang lebih 15 Menit airnnya mendidih, dan dilakukan titrasi, airnya berubah semakin jernih dan ada sedikit endapan kotoran dari cairan. Semakin  lama uapannya bertambah,telah beberapa lama dilakukan pembakaran selama kurang lebih 15 Menit airnnya mendidih, dan dilakukan titrasi, airnya berubah semakin jernih dan ada sedikit endapan kotoran dari cairan.



Saran
Saran untuk kegiatan pratikum kimia dasar ini yaitu hendaknya pratikan dapat melaksanakan pratikum dengan benar dan hati-hati agar pratikum ini dapat berlangsung dengan baik, Dalam praktikum kimia dasar masih sangat perlu bimbingan khusus, terutama pada penggunaan alat-alat laboratorium. Serta dalam pembahasan materi juga diperlukan bimbingan yang baik. Sehingga permasalahan dan tujuan dalam praktikum dapat terselesaikan dan tercapai dengan maksimal. Dan Sebelum melakukan praktikum alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu disiapkan, agar dalam melakukan kegiatan praktikum dapat berjalan dengan baik, sehingga waktu praktikum dapat dimanfaatkan dengan seeffisien mungkin.

DAFTAR PUSTAKA


Purba Michael. 2002. Pemisahan filtrasi destilasi dan kristalisasi. Erlangga. Jakarta.
Sitorus. Ronald. 2002. Pemisahan dan Pemurnian. Erlangga. Jakarta.
Halimah, nisa. 2009. http://blogspot-news. Pemisahan dan pemurnaian. 11 November 2014.
Fessenden. 2002. http://blogspot-news. Pemisahan dan pemurnaian . 11 November 2014.
Anonim. 2009. http://asyharstf08.wordpress.com/2009/10/31/pemisahan-dan-pemurnian-zat-cair-serta-zat-padat/.htmlPemisahan dan pemurnian zat cair serta zat padat. 11 November 2014.
Adhi Rusandhi, Sucahyono. 2009. http://PublishedbySucahyonoAdhiRusandhi.blog.com/ 2009/08/27/pemisahan-dan-pemurnian-zat-secara-fisik/.html. pemisahan dan pemurnian zat secara fisik. 11 November 2014.
Anonim. 2010. http://ochakimia.blogspot.com/2010/09/05/Pemisahan-dan-pemurnian-zat-secara-fisik/.html. pemisahan dan pemurnian zat secara fisik. 11 November 2014.
Sanjaya, ade. 2010. http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/pemurnian-dan-pemisahan.html. Pemurnian dan pemisahan. 11 November 2014.
Anonim. 2010. http://blognyachami.blogspot.com/2010/09/pemisahan-dan-pemurnian-zat-cair-dan.html. Pemisahan dan pemurnian zat cair. 11 November 2014.
Kusnandini. 2011. http://kusnandini.wordpress.com/2011/04/30/pemisahan-dan-pemurnian-zat-padat/.  Pemisahan dan pemurnian zat padat.  11 November 2014
John, Wilson.2001. Kegiatan Perbandingan Praktikum Kimia Dasar. Bumi sakti : Semarang
J. Marray 2004. Kromatografi . Balai Pustaka : Jakarta
Stacy.2003.Kimia Dasar dan Terapan Moderen. Erlangga:Jakarta
Yasid . 2005. Kromatografi . Erlangga : Semarang
Annisa 2000 : 117 http://blogspot.com. metode kromatografi , Diakses tanggal 20 November 2014
Aswad. Dkk., 2001. Kimia SMA 2. Erlangga. Jakarta.
Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta.
Bird. 2000. Kimia XI A. Jakarta. Erlangga.
B.J Stokes. 2004. Kimia Dasar 3. ITB Press. Bandung.
J.A. Hunt. Dkk. 2009. Kimia Universitas Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Keenan. Charles W. Dkk. 2000. Kimia Untuk Universitas Jilid 2. Erlangga. Jakarta
(Joko, 2008:157) http://blogspot.com kromatografi kertas, di postkan tanggal 11 januari 2009.  20 November 2014.
J. Marray 2004. Kromatografi . Balai Pustaka : Jakarta
Anonim. 2010. http://blognyachami.blogspot.com/2010/09/kromatografi .html. Kromatografi.  20 November 2014.
Rassy, 2004:367 http://blogspot.com stoikiometri, di postkan tanggal 11 januari 2004. Diakses tanggal 25 November 2014.
Krisbiyanto. Adi. 2008, Panduan Kimia Praktis SMA. Pustaka Widyautama; Jakarta
Anonim. (http://anggy1.wordpress.com). Stoikiometri larutan. diakses tanggal 25 november 2014.
Anonim. (http://chechepos.wordpress.com). Konsep mol. diakses tanggal 25 November 2014.
Riccard, 2006:980 http://blogspot.com teori asam-basa, di postkan tanggal 11 januari 2006. Diakses tanggal 20 November 2014.
Syukri.2000. Kimia Dasar 2. ITB Press. Bandung.
Tamrin dan J. Abdul. 2008. Rahasia Penerapan Rumus-Rumus Kimia. Gita Media Pres : Jakarta
Konnaso. 2001. Katalis Pada Laju Reaksi. Erlangga. Jakarta.
Tim kimia dasar.2009. Penuntun praktikum kimia dasar I .Surabaya :Unipres
Keenan, dkk .2000 . Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Hendrayana, sumar . 2006 . Kinetika Kimia . Bandung : remaja rosda karya
Herman. 2007 . Tehnik Kimia . Jakarta : Erlangga
Keenan, dkk . 2000 . Kimia untuk Universitas . Jakarta : Erlangga
Saliman . 2006 . Kimia  Dasar . Jakarta : PT Raja grafindo persada
Syuky . 2001 . Kimia untuk Pemula . Jakarta : Erlangga
Wiskia . 2001 . Konsep Dasar Kimia . Jakarta : Erlangga
Day. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga, 2002.
Khopkar. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UIP, 2007.
Mastuti, Endang. http://www.google.com. Pembuatan Asam Oksalat dari Sekam Padi. 28 desember 2014.
Petrucci, Ralp H. Kimia Dasar Prinsip-Prinsip dan Aplikasi Modern. Jakarta: Erlangga, 2007.
Riswiyanto. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga, 2009.
Rivai, Haeeizul. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UIP, 1995.
 Praktikum kimdas titrasi redoks. 28 desember 2014.