PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemisahan dan pemurnian
merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan suatu
senyawa atau sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan
dari suatu bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. Pada
prinsipnya, pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang
saling bercampur, sedangkan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan zat murni
dari suatu zat yang telah tercemar oleh zat lain. Dalam
melakukan pemisahan dan pemurnian diperlukan pengetahuan dan keterampilan,
terutama jika harus memisahkan komponen dengan kadar yang sangat kecil. Untuk
tujuan itu, dalam ilmu kimia telah dikembangkan berbagai cara pemisahan dari
pemisahan sederhana yang sering
dilakukan sehari-hari sampai metode pemisahan dan pemurnian yang kompleks atau
tidak sederhana.
Dasar Pemisahan Campuran
Zat atau materi dapat dipisahkan dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasari pemisahan campuran atau dasar pemisahan. Beberapa dasar pemisahan campuran antara lain sebagai berikut:
a) Perbedaan ukuran partikel
Jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan berbeda dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur), dapat dipisahkan dengan metode filtrasi (penyaringan). Untuk keperluan ini kita harus mengunakan penyaring dengan ukuran yang sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaringan dan disebut hasil penyaringan sedangkan zat pencampurnya akan terhalang dan disebut residu.
b) Perbedaan titik didih
Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki perbedaan titik didih, kita dapat melakukannya dengan menggunakan metode destilasi. Zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi akan terlebih dahulu menguap. Jika yang kita inginkan adalah zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi, maka langkah selanjutnya kita mengembunkan uap dari zt tersebut (pendinginan) dan mengalirkannya kewadah tertentu. Jika yang kita inginkan adalah zat yang memiliki titik didih lebih rendah, maka kita cukup memanaskan campuran tersebut saja. Sampai suhu mencapai titik didih zat yang akan dicari.
c) Perbedaan kelarutan zat
Suatu zat yang selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A tapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi menjad dua, yaitu pelarut polar (pelarut yang memiliki kutub) dan pelarut nonpolar (pelarrut organic) seperti alkohol, methanol, eter dan kloroform.dengan prinsip perbedaan kelarutan, kita dapat memisahkan campuran dari pelarut tersebut.
d) Perbedaan pengendapan
Suatu zat memiliki kecepatan mengendap yang berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang memiliki berat jenis lebih besar daripada pelarutnya akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan kecepatan pengendapan yang berbeda, maka pemisahan campuran tersebut dapat dilakukan dengan metode sedimentasi atau sentrifugsi (pemusingan). Jika dalam campuran terdapat lebih dari satu zat yang akan kita inginkan, maka digunakan metode presipitasi yang akan dikombinasikan dengan metode filtrasi.
e) Difusi
Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu sama lain. Aliran ini dapat dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur sedemikian rupa (baik besar tegangan nya maupun kuat arusnya) akan menarik partikel zat hasil kearah tertentu untuk memperoleh zat yang murni. Metode pemisahan campuran dengan menggunakan bantuan listrik disebut elektrodialisis. Selain itu, kita mengenal juga istilah elektroforesis, yaitu pemisahan zat yang berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan penyusun DNA) dapat dilakukan dengan elektroforesis, menggunakan suatu media yang disebut gel agarosa.
f) Adsorpsi
Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorpsian. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organisme.
Metode Pemisahan Standar
Tidak ada cara unik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisika masing-masing komponen titik kritisnya dapat menggunakan perbedaan sifat yang sangat kecil.
a) Filtrasi
Biasanya filtrasi alami yang digunakan, misalnya sampel yang akan disaring dituang kecorong yang didasarnya ditaruh kertas saring. Fraksi cairan melewati kertas saring dan padatan tinggal diatas kertas saring. Bila sampel cairan terlalu kental, filtrasi dilakukan dengan penghisapan. Digunakan alat khusus untuk mempercepat filtrasi dengan menvakumkan penampung filtrat yang digunakan. Filtrasi dengan penghisapan tidk cocok bila cairannya adalah pelarut organic mudh menguap. Dalam kasus ini, tekanan perharus diberikan pada permukaan cairan atau larutan.
b) Adsorpsi
Tidak mudah menyingkirkan partikel yang sedikit dengan filtrasi sebab partikel semacam ini akan cenderung menyumbat penyaringannya. Dalam kasus ini direkomendasikan penggunaan penyaringan yang secara selektif mengadsorpsi sejumlah kecil pengotor. Bantuan penyaring apapun akan bisa digunakan bila saringannya berpori, hidrofob atau solvofob dan memiliki kisi yang kaku. Celit, keramik diatom, dn tanah liat teraktivasi sering digunakan. Karbon teraktivasi memiliki luas permukaan yang besar dan dapat mengadsorpsi banyak senyawa organic dan sering digunakan untuk menyingkirkan zat yang berbau dari udara atau air. Silika gel dapat mengadsorpsi air dan digunakan meluas sebagai desikan.
c) Rekristalisasi
Metode ini cukup sederhana, material padatan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat dengan titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh atau dekt jenuh. Ketika larutan panas perlahan didinginkan, Kristal akan mengendap karna kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan pengotor tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh.
Saran untuk membantu rekristalisasi :
Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan yang besar pada suhu. Kristal tidak harus dari larutan jenuh dengan pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh. Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut, penggunaan pelarut polar lebih disarankan. Namun, pelarut nonpolar cenderung merupakan larutan yang buruk untuk senyawa polar. Kita harus hati-hati bila menggunakan pelarut polar.
Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorpsian. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organisme.
Metode Pemisahan Standar
Tidak ada cara unik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisika masing-masing komponen titik kritisnya dapat menggunakan perbedaan sifat yang sangat kecil.
a) Filtrasi
Biasanya filtrasi alami yang digunakan, misalnya sampel yang akan disaring dituang kecorong yang didasarnya ditaruh kertas saring. Fraksi cairan melewati kertas saring dan padatan tinggal diatas kertas saring. Bila sampel cairan terlalu kental, filtrasi dilakukan dengan penghisapan. Digunakan alat khusus untuk mempercepat filtrasi dengan menvakumkan penampung filtrat yang digunakan. Filtrasi dengan penghisapan tidk cocok bila cairannya adalah pelarut organic mudh menguap. Dalam kasus ini, tekanan perharus diberikan pada permukaan cairan atau larutan.
b) Adsorpsi
Tidak mudah menyingkirkan partikel yang sedikit dengan filtrasi sebab partikel semacam ini akan cenderung menyumbat penyaringannya. Dalam kasus ini direkomendasikan penggunaan penyaringan yang secara selektif mengadsorpsi sejumlah kecil pengotor. Bantuan penyaring apapun akan bisa digunakan bila saringannya berpori, hidrofob atau solvofob dan memiliki kisi yang kaku. Celit, keramik diatom, dn tanah liat teraktivasi sering digunakan. Karbon teraktivasi memiliki luas permukaan yang besar dan dapat mengadsorpsi banyak senyawa organic dan sering digunakan untuk menyingkirkan zat yang berbau dari udara atau air. Silika gel dapat mengadsorpsi air dan digunakan meluas sebagai desikan.
c) Rekristalisasi
Metode ini cukup sederhana, material padatan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat dengan titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh atau dekt jenuh. Ketika larutan panas perlahan didinginkan, Kristal akan mengendap karna kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan pengotor tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh.
Saran untuk membantu rekristalisasi :
Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan yang besar pada suhu. Kristal tidak harus dari larutan jenuh dengan pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh. Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut, penggunaan pelarut polar lebih disarankan. Namun, pelarut nonpolar cenderung merupakan larutan yang buruk untuk senyawa polar. Kita harus hati-hati bila menggunakan pelarut polar.
Pelarut dengan titik didih rendah umumnya lebih
diinginkan. Namun, sekali lagi pelarut dengan titik didih lebih rendah
biasanya nonpolar. (Tekeuchi, 2006)
d) Destilasi
Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya mempunyai perbedaan titik didih yang cukup tinggi. Pada pemisahan campuran dari dua cairan yang menguap atau yang titik didihnya berdekatan lebih banyak persoalannya sehingga tidak dapat dilakukan dengan destilasi biasa.
d) Destilasi
Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya mempunyai perbedaan titik didih yang cukup tinggi. Pada pemisahan campuran dari dua cairan yang menguap atau yang titik didihnya berdekatan lebih banyak persoalannya sehingga tidak dapat dilakukan dengan destilasi biasa.
Suatu cara yang sering digunakan untuk memperoleh hasil yang
lebih baik disebut destilasi bertingkat, yaitu proses dimana
komponen-komponennya secara bertingkat diuapkan dan diembunkan. Dalam proses
ini campuran dididihkan pada kisaran suhu tertentu pada tekanan uap yang
dilepaskan dari dalam cairan tidak murni yang berasal dari satu komponen tetapi
masih mengandung campuran kedua komponen dengan komposisi yang biasanya berbeda
dengan komposisi cairan yang mendidih. Bila sebagian cairan yang telah
dididihkan uapnya diembunkan, maka campuran akan terbagi menjadi tilatdua bagian.
Bagian pertama terdiri dari uap yang terembun disebut destilat, dan mengandung
lebih banyak komponen yang nudah menguap disbanding cairan aslinya. Bagian
kedua adalah cairan yang tertinggal disebut residu, yang susunannya lebih
banyak komponen yang sukar menguap. Hal ini dapat diulangi lagi beberapa kali
sampai akhirnya diperoleh salah satu komponen murni yang mudah menguap.
Pada pemisahan campuran yang membentuk larutan non ideal dapat menunjukan prilaku yang lebih rumit. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan secara menyeluruh kedalam komponen-komponennya, karena bila dididihkan campuran akan mendidih dengan konstanta campuran semacam ini disebut azeotrop, yaitu campuran yang mendidih pada suhu konstan dangan komposisi yang konstan.
Pada pemisahan campuran yang membentuk larutan non ideal dapat menunjukan prilaku yang lebih rumit. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan secara menyeluruh kedalam komponen-komponennya, karena bila dididihkan campuran akan mendidih dengan konstanta campuran semacam ini disebut azeotrop, yaitu campuran yang mendidih pada suhu konstan dangan komposisi yang konstan.
e) Ekstraksi
Ekstraksi mempunyai peranan yang penting dalam laboratorium dan teknik. Di dalam laboratorium ekstraksi pelarut digunakan untuk mengambil zat-zat terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut organic yang tidak bercampur dengan fase air seperti : eter, kloroform, dan benzene. Ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan suatu spesi yang dalam larutan air terlalu encer untuk dianalisa.
Dalam industri, umumnya ekstraksi pelarut digunakan dalam analisis untuk memurnikan zat-zat dari pengotor yang tidak diinginkan dalam hasil.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibedakan menjadi :
Ekstraksi padat-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk padatan. Ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut. Banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam tertentu dalam larutan cair.
Menurut proses pelaksanaanya ekstraksi dibedakan menjadi:
Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut yang sama digunakan secara berulang-berulang sampai proses ekstraksi selesai.Ekstraksi bertahap. Dalam ekstraksi ini selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. (Estein, 2005)
Ekstraksi mempunyai peranan yang penting dalam laboratorium dan teknik. Di dalam laboratorium ekstraksi pelarut digunakan untuk mengambil zat-zat terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut organic yang tidak bercampur dengan fase air seperti : eter, kloroform, dan benzene. Ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan suatu spesi yang dalam larutan air terlalu encer untuk dianalisa.
Dalam industri, umumnya ekstraksi pelarut digunakan dalam analisis untuk memurnikan zat-zat dari pengotor yang tidak diinginkan dalam hasil.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibedakan menjadi :
Ekstraksi padat-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk padatan. Ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut. Banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam tertentu dalam larutan cair.
Menurut proses pelaksanaanya ekstraksi dibedakan menjadi:
Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut yang sama digunakan secara berulang-berulang sampai proses ekstraksi selesai.Ekstraksi bertahap. Dalam ekstraksi ini selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. (Estein, 2005)
Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan dan
pengidentifikasian campuran berdasarkan perbedaan suatu kecepatan perambatan
komponen dalam medium tertentu dan pada kromatografi, komponen-komponennya akan
dipisahkan antara dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Kertas kromatografi dibuat dari serat selulosa dan selulosa merupakan polimer dari gula sederhana, yaitu glukosa. Kompleksitas
timbul karena serat-serat selulosa
berintraksi dengan uap air dari atmosfir sebagaimana dalam hal air yang timbul
pada saat pembuatan kertas.
Stoikiometri
Stoikiometri berkaitan
dengan hubungan kuantitatif antara unsur dalam suatu senyawa dan antar zat
dalam suatu reaksi, pengetahuan tentang masa atom dan masa molekul dan mempunyai peranan yang
sangat penting dalam pengembangan suatu ekperimen maupun dalam suatu
perindustrian, dimana kita dapat mencampurkan zat pereaksi dalam jumlah yang sesuai serta dapat
memperkirakan jumlah yang sangat besar.
Laju reaksi
Dalam
ilmu kimia faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi sangat penting agar kita
dapat menentukan perbedaan warna pada setiap reaksi kimia yang direaksikan dan
kita juga dapat menentukan waktu yang dibutuhkan suatu reaksi dan menunjukan warna yang berbeda Oleh karena itu harus mengetahui bagaimana hal-hal tersebut dan dilakukan dengan penuh ketelitian serta Untuk melakukan kegiatan tersebut dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan.
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dengan cara percobaan yang
memperlihatkan pengaruh konsentrasi, besar partikel, temperatur dan katalis.
Laju
reaksi atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi reaksi ataupun produk
dalam suatu satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju
berkurangnya sabagai konsentrasi suatu pereaksi, atau laju bertambah sebagai
konsentrasi suatu produk. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol/liter,
tetapi untuk reaksi fase gas, satuan tekanan atmosfer, milimeter merkurium,
atau pascal, dan dapat juga di gunakan sebagai ganti konsentrasi. Pada pratikum
ini penulis menggunakan satuan alat pengukur suatu laju reaksi dengan
menggunakan alat yang bernama stopwatch, pada stopwatch ini menggunkan suatu
satuan waktu detik, menit, dan jam,
tergantung dengan pada kecepatan suatu reaksi itu bereaksi. Laju reaksi ataupun
kecepatan suatu laju reaksi dapat di pengaruhi dengan faktor-faktor yaitu besar
partikel, temperatur, katalis dan konsentrasi pereaksi.
Titrasi Oksidasi reduksi (redoks)
Titrasi Oksidasi reduksi
(redoks),merupakan bagian terbesar dari analisis volumetri karena metoda ini dapat digunakan untuk sejumlah besar unsur. Selain itu
metoda ini digunakan juga untuk menentukan sejumlah zat organic. Titik akhir titrasi ditentukan dengan berbagai macam indicator visual dan
cara elektrometri.
Reaksi-reaksi kimia yang melibatkan oksidasi reduksi
dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetric. Ion-ion dari berbagai
unsur dapat hadir dalam kondisi oksidasi yang berbeda-beda. Menghasilkan
kemungkinan terjadi banyak reaksi redoks. Banyak dari reaksi ini memenuhi syarat
untuk digunakan dalam analisa titrimetric dan penerapan-penerapannya cukup
banyak (Day, 2002, hal: 287).
Pemisahan oksidasi reduksi terbagi menjadi
komponen-komponennya, yaitu reaksi separuhnya adalah cara untuk meunjukkan
masing-masing spesies yang memperoleh maupun yang menerima electron. Reaksi
oksidasi reduksi berasal dari transfer langsung electron dari donor ke
akseptor. Bermacam reaksi redoks dapat digunakan untuk analisis titrasi
volumetric asalkan kesetimbangan yang tercapai setiap penambahan titran dapat
berlangsung dengan cepat. Dan diberlakukan juga adanya indicator yang mampu
menunjukkan adanya titik equivalen stoikiometri dengan akurasi yang tinggi.
Banyak titrasi redoks dilakukan dengan indicator warna (Khopkar, 2007, hal:
48).
Tujuan praktikum pemisahan dan pemurnian ini yaitu untuk memisahkan dua
zat atau lebih yang saling bercampur, untuk mempelajari perubahan yang terjadi
pada dua zat atau lebih yang telah dipisahkan.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui zat murni yang dihasilkan
melalui prosesnya, dan kita dapat mengetahui perubahan pada zat yang telah
dipisahkan tersebut.
Tujuan praktikum kromatografi ini yaitu untuk mengetahui
bagaimana cara memisahkan dan mengidentifikasi campuran itu bisa terjadi.
Selain itu kita dapat mengidentifikasi campuran berbagai jenis tinta pada
kertas kromatografi.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat menambah wawasan, serta kita dapat
mengetahui lebih rinci bagaimana hal tersebut dapat terjadi dan dapat digunakan
pada kehidupan sehari-hari.
Tujuan praktikum stoikiometri ini yaitu untuk mengetahui temperature dari
suatu zat yang belum tercampur oleh zat lain dan temperature suatu larutan.
Selain itu untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi apabila konsentrasi,
jumlah suatu zat berbeda maka hal yang terjadi serta perubahan setelah
dilakukan berbagai perlakuan.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui cara mengukur temperature
suatu zat, bagaimana hubungan bobot dalam suatu reaksi, menentukan senyawa
dalam campuran dan dapat mengetahui pengaruh jumlah, konsentrasi terhadap
perubahan suatu zat.
Tujuan praktikum laju reaksi ini
yaitu agar kita dapat mengetahui factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
suatu laju reaksi dan mengetahui temperature pada laju reaksi kimia untuk
menunjukkan hasil reaksi tertentu.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui temperature pada laju
reaksi kimia dan hasil dari reaksi.
Tujuan praktikum titrasi reduksi oksidasi (redoks)
yaitu untuk menentukan titrasi redoks
secara oksidimetri.
Manfaat praktikum ini yaitu kita dapat menentukan titik akhir dari titrasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Pemisahan
dan Pemurnian
Larutan cairan dapat dibuat dengan melarutkan gas, cairan,
atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagian cairan adalah air, maka
larutan disebut larutan berair. Larutan padatan adalah padatan –padatan dalam
satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau molekul dari komponen
lainnya (Sastrohamidjojo, 2005).
Kristalisasi merupakan salah satu
cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat tersebut atau zat
pada tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut. Cara ini bergantung pada
kelarutan pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu dikala suhu
diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari
konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang
rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan
mengendap (Arsyad, 2001).
Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut yang sama digunakan secara berulang-berulang
sampai proses ekstraksi selesai.Ekstraksi bertahap. Dalam ekstraksi ini
selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. (Estein,
2005)
Garam dapur dan natrium klorida atau
NaCL. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan
memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCL dengan NaOH berair. NaCL
nyaris tak dapat larut dalam alkohol, tetapi larut dalam air sambil menyedot
panas, perubahan kelarutan sangat kecil dengan suhu (Arsyad, 2001).
Ada beberapa cara pemisahan campuran
: filtrasi pemisahan zat padat dari cairan melalui saringan yang berpori.
Kristalisasi pemisahan untuk memperoleh zat padat yang larut dalam cairan.
Terbagi 2 yaitu : penguapan dan pendinginan. Destilasi cara memperleh cairan
yang dikotori zat terlarut dan becampur dengan cairan lain yang titik didihnya
berbeda (Ronald sitorus, 2002).
Zat padat umumnya mempunyai titik
lebur yang tajam, sedangkan zat padat amorf akan melunak dan kemudian melebur
dalam rentangan suhu yang besar. Partikel zat padat amorf sulit dipelajari
karena tidak teratur. Oleh sebab itu, permbahasan zat padat hanya membicarakan
kristal (Syukri, 2000).
Kemudahan suatu endapan dapat
disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan,
yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kriistal-kristal yang
terbentuk selama berlangsung pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan
mungkin sekali makin cepat kristal itu akan turun keluar dari larutan yang
lagi-lagi akan membantu penyaringan (Svehla, 2000).
Kristalisasi merupakan
metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut dalam suatu larutan.
Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik
beku. Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi
pendinginan (Nisa halimah.2009).
Kromatografi
Kromatografi adalah pemisahan campuran komponen-komponen didasarkan
pada perbedaan tingkat interaksi terhadap dua fasa material pemisah. Campuran
yang akan dipisahkan dibawa fasa gerak, yang kemudian dipaksa bergerak atau
disaring melalui fasa diam karena pengaruh gaya berat atau gaya-gaya yang lain. Komponen-komponen
dari campuran ditarik dan diperlambat oleh fasa diam pada tingkat yang
berbeda-beda sehingga mereka bergerak bersama-sama dengan fasa gerak dalam
waktu retensi (retention time) yang berbeda-beda dan dengan demikian mereka
terpisah (Bambang, 2000).
Kromatografi
menurut J . Marray (2004) adalah suatu tekhnik pemisahan molekul berdasarkan
perbedaan pola gerak antara dua fase , yaitu fase gerak dan fase diam itu
berguna untuk memisahkan komponen yang berada pada larutan
(Joko, 2008:157), menyatakan bahwa semakin banyak tinta
yang diteteskan , maka semakin lebar pula resapan tintanya. Dan penetesan
tintanya jangan terlalu banyak akan mengakibatkan melebarnya tinta warna yang
sangat banyak.
Kromatografi adalah Suatu metoda untuk separasi yang
menyangkut komponen suatu contoh di mana komponen dibagi-bagikan antara dua
tahap, salah satu yang mana adalah keperluan selagi gerak yang lain . Di dalam
gas chromatography adalah gas mengangsur suatu cairan atau tahap keperluan
padat. Di dalam cairan chromatography adalah campuran cairan pindah gerakkan
melalui cairan yang lain , suatu padat, atau suatu 'gel' agar. Mekanisme
separasi komponen mungkin adalah adsorpsi, daya larut diferensial,
ion-exchange, penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain (David. 2001)
Pada kromatografi
sesuatu zat cair dapat di indentifikasi dengan daya serap nya (J. Marray,
2004).
Metode kromatografi merupakan suatu
teknik pemisahan secara fisika yang menggunakan dua fase yaitu fase diam dan
fase gerak. Pemisahan ini terjadi karena adanya perbedaan migrasi yang
disebabkan oleh beda koefisien distribusi dari masing-masing komponen. Salah
satunya merupakan lapisan stasioner (fase diam) dengan permukaan yang luas dan
fase yang lain berupa zat alir (fluida) yang mengalir lambat menembus sepanjang
lapisan stasioner (annisa 2000 : 117).
Menurut Yasid (2005), menyatakan bahwa fase diam adalah fase
kromagtografi yang berfungsi sebagai penyerapan dan fase tersebut cenderung
menahan komponen campuran.
Secara fisik kromatografi kertas memiliki teknik-teknik yang sama dengan kromatografi lapis tipis, tetapi sebenarnya merupakan tipe khusus kromatografi cair-cair yang fasa diamnya hanya berupa air yang diadsorpsikan pada kertas dimana kertas hanya bertindak sebagai pendukung. Tekniknya sangat sederhana dengan menggunakan lembaran selulosa yang mengandung kelembaban tertentu. Cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan pada pinggir kertas selulosa yang telah diatur sedemikian rupa selanjutnya dimasukkan ke dalam bejana pengembang dan dijaga agar atmosfer dalam bejana selalu jenuh dengan fase gerak (Rudi, 2010).
Secara fisik kromatografi kertas memiliki teknik-teknik yang sama dengan kromatografi lapis tipis, tetapi sebenarnya merupakan tipe khusus kromatografi cair-cair yang fasa diamnya hanya berupa air yang diadsorpsikan pada kertas dimana kertas hanya bertindak sebagai pendukung. Tekniknya sangat sederhana dengan menggunakan lembaran selulosa yang mengandung kelembaban tertentu. Cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan pada pinggir kertas selulosa yang telah diatur sedemikian rupa selanjutnya dimasukkan ke dalam bejana pengembang dan dijaga agar atmosfer dalam bejana selalu jenuh dengan fase gerak (Rudi, 2010).
Stoikiometri
Thomas (2005), menyatakan bahwa
stoikiometri dari suatu senyawa dapat memperlajari dalam kinetika kimia.
Michael Purba (2005), menyatakan
bahwa stoikiometri adalah pengetahuan tentang masa atom dan masa molekul.
J.A Hunt (2004), menyatakan bahwa
stoikiometri dari suatu senyawa dinyatakan dalam rumus kimia.
Sudjiwo (2007), menyatakan bahwa
perubahan temperatur pada stoikiometri dapat dihitung dengan suhu akhir
dikurang suhu awal.
Penicum aracis (2002), menyatakan
stoikiometri ialah salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan dan
komposisi-komposisi dari suatu zat dan nilainya.
Stokes B.J (2004), menyatakan
bahwa stoikiometri mempunyai peranan sangat penting dalam pengembangan suatu
eksperimen maupun dalam suatu perindustrian, dimana kita dapat mencampurkan zat
pereaksi dalam jumlah yang sesuai serta dapat memperkirakan jumlah yang sangat
besar.
Stoikiometri dari suatu senyawa
dapat mempelajari dalam kinetika kimia. (Raymond, 2002 )
Wilson (2001), menyatakan bahwa temperature suatu
zat yang telah di amati dapat menghasilkan suhu berbeda dengan suhu awal.
Berhitungan jika bertautan dengan cara yang hasilnya memiliki ketetapan.
stoikiometri adalah pengetahuan tentang masa atom dan masa
molekul. (Davide, 2003)
Departemen pendidikan dan kebudayaan, menyatakan bahwa
Stiokiometri berkaitan dengan hubungan kuantitatif antara unsur dalam suatu
senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi.
Laju reaksi
Laju atau kecepatan
reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi atau pun produk dalam suatu waktu
( Syuki. 2001).
Aswad (2001) mengatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah benda-benda yang
mempengaruhi konsentrasi, besar partikel dan temperatur atas laju reaksi.
Kenaikan temperatur
dalam suatu reaksi juga mempengaruhi suatu laju reaksi, kenaikan suhu sebesar
10 derajat celcius dari temperatur sebelumnya akan mempengaruhi laju suatu
reaksi, dimana laju reaksi akan meningkat menjadi dua kali lebih cepat dari
yang sebelumnya (Hendrayan. 2006).
Berhasil atau gagalnya suatu
proses komersial untuk menghasilkan suatu
senyawa sering tergantung pada penggunaan katalis yang cocok. Selang suhu dan tekanan
yang dapat digunakan dalam proses industry tidak mungkin berlangsung dalam reaksi
biokimia. Tersedianya katalis
yang cocok untuk reaksi-reaksi ini mutlak bagi makhluk hidup (Hiskia,2002).
Bila unsur dipanaskan
maka laju reaksi juga semakin cepat dan maka dari itu hubungan unsur tersebut
semakin erat sehingga unsur-unsur baru juga cepat terbentuk (Saliaman. 2006 ).
Ada juga reaksi yang berlangsung
sangat lambat, seperti perkaratan besi atau fosilisasi sisa-sisa organisme.
Selain itu, laju reaksi kimia ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
suhu, konsentrasi, dan faktor lainnya (Priyatna, 2001)
Laju didefinisikan sebagai laju
pengurangan konsentrasi molar salah satu pereaksi atau laju pertambahan
konsentrasi molar salah satu produk dalam satu-satuan waktu. Sebaliknya pada
larutan yang dipanaskan dipengaruhi oleh temperatur (Tim penyusun kimia dasar,
2009).
Pada temperatur tetap
laju reaksi tergantung pada konsentrasi zat pereaksi semakin tinggi , maka
konsentrasi zat pereaksi semakin cepat reaksi terbentuk ( Wiskia. 2001).
Bila partikel semakin banyak akibatnya
lebih banyak kemungkinan partikel saling bertumbukan yang terjadi dalam suatu
larutan sehingga reaksi bertambah cepat ( Herman. 2007).
Konnaso (2001) mengatakan, bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah pengaruh konsentrasi,
pengaruh besar partikel atas laju reaksi, pengaruh temperatur atas laju reaksi,
pada temperatur-temperatur atas laju reaksi ini tergantung pada zat-zat
pereaksi.
Sifat dan ukuran pereaksi. Semakin
reaktif dari sifat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah atau reaksi
berlangsung semakin cepat. Semakin luas
permukaan zat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah, hal ini dapat dijelaskan dengan semakin luas
permukaan zat yang bereaksi maka daerah
interaksi zat pereaksi semakin luas juga. Permukaan zat pereaksi dapat
diperluas dengan memperkecil ukuran pereaksi. Jadi untuk meningkatkan laju
reaksi, pada zat pereaksi dalam bentuk
serbuk lebih baik bila dibandingkan dalam bentuk bongkahan (Petrucci, 2007).
Titrasi oksidasi dan reduksi
Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya, dimana reaktan pertama ditambahkan secara
kontinue ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. Reaktan yang ditambahkan tadi disebut
sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree (Thomas, 2003).
Pada proses titrasi
digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi
selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady, 2009).
Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke
dalam buret (pipa panjang berskala) & jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum & sesudah titrasi. Larutan asam
yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu dengan memakai pipet gondok. Untuk mengamati titik ekivalen, dipakai indikator
yang warnanya disekitar titik ekivalen. Dalam titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri, 2009).
Didalam
beberapa titrasi, titik ekivalen adalah titik selama proses
titrasi dimana tepatnya titrant telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan
titree. Salah satu masalah teknis
dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati,
terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik
ekivalen (Kuncoro, 2001).
Secara ideal, titik akhir
dan titik ekivalen seharusnya identik, tetapi dalam prakteknya jarang sekali
ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama, meskipun ada
beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan
(Snyder, 2006).
Batasan yang lebih umum dari reaksi
oksidasi reduksi adalah berdasarkan pemakaian bilangan oksidasi pada pemakaian
bilangan oksidasi pada atom karbon dengan cara memasukkan bilangan oksidasi
pada keempat ikatannya. Contohnya atom H yang berikatan dengan C mempunyai bilagan
oksidasi 0, dan atom C mempunyai bilangan oksidasi +1 jika berikatan tunggal
pada heteroatom seperti oksigen, nitrogen atau sulfur (Riswiyanto, 2009, hal:
108).
Titrasi biasanya
merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yg
diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik
ekivalen. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan
titik akhir. Kesalahan titik akhir adalah kesalahan acak yang berbeda untuk setiap sistem. Kesalahan ini bersifat
aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri,
kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai, 2005).
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia di mana
terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap
penurunan bilangan oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai dengan hilangnya
electron sedangkan reduksi memperoleh electron. Oksidator adalah senyawa di
mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya
pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi.
Oksidasi reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling mengkompensasi
satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak
kepada atonya saja. Jika suatu reagen berperan baik sebagai oksidator dan
redukstor maka dikatakan zat tersebut mengalami autooksidasi atau
disproporsionasi (Khopkar, 2007, hal: 48).
Potensial system redoks merupakan peubah yang paling khas
yang berubah selama berlangsungnya titrasi redoks. Karena itu, potensial yang
diukur dapat dibuat pada kertas grafik sebagai fungsi volume peniteryang
ditambahkan sehingga diperoleh kurva titrasi redoks. Sedangkan titrasi dapat
dengan persamaan ners, yaitu hubungan antara potensial elektroda baku kedua
pasangan redoks dan kesetimbangan massanya. Biasanya kurva teoritis ini
bersesuaian dengan kurva yang diperoleh dengan percobaan. Karena itu, kurva
teoritis ini sangat berguna untuk meramalkan ketelitian pengukuran, memilih
indicator dan memilih persyaratan titrasi yang bersesuaian (Rivai 1995, hal:
347).
Menurut Petrucci (2007), langkah dasar dalam metode untuk
menyetarakan redoks yaitu:
a. Tuliskan dan setarakan persamaan setengah terpisah untuk
oksidasi dan reduksi
b. Sesuaikan koefisien pada kedua persamaan setengah sehingga
elektronnya sama banyak disetiap persamaan setengah
c. Tambahkan kedua persamaan setengah (hapuskan electron) untuk
memperoleh persamaan keseluruhan yang setara.
Prinsip yang sama menyetarakan persamaan berlaku pada
persamaan oksidasi reduksi (redoks) sebagaimana dengan persamaan lain
menyetarakan dengan banyaknya atom dan menyetarakan muatan listrik. Namun,
sering sedikit sulit untuk mengaplikasikan prinsip ini pada persamaan redoks.
Faktanya hanya sebagian kecil persamaan redoks yang dapat disetarakan dengan
pengamatan sederhana. Memerlukan pendekatan sistematik dan meskipun beberapa
metode tersedia, ditekankan bahwa salah satu yang mempertimbangkan reaksi
keseluruhan yang terjadi sebagai gabungan reaksi setengah yang
terpisah untuk reaksi oksidasi dan reduksi (Petrucci, 2007, hal: 154).
MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
Pratikum
Kimia Dasar
ini dilaksanakan setiap hari Minggu
mulai dari tanggal 09
November
2014 sampai dengan 21
Desember
2014 pada waktu yang
disesuaikan setiap minggunya s/d selesai, yang bertempat di
Laboratorium
Saintek,
Universitas Jambi.
Materi
Pada
praktikum Pemisahan dan Pemurnian, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu
gelas kimia, corong, cawan penguap, gelas ukur 50 ml, pembakar, kaca erloji,
kertas saring,
.
, garam dapur, yod, kapur tulis, dan pasir.
Pada pratikum Kromatografi, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu kertas kromatografi, gelas kimia, lidi, dan tinta biru,
merah, hitam.
Pada
praktikum Stoikiometri, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu tabung
reaksi, gelas kimia, gelas piala, thermometer, larutan HCl, larutan NaOH 2 M,
dan larutan 
Pada praktikum Laju Reaksi, adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu: Pada kegiatan 1a, labu 100 ml, balon, stopwatch, butiran seng dan larutan asam klorida. Pada kegiatan 2b, balon, tabung ukur 100 ml, labu ukur 100 ml, mortar, marmer, dan larutan
HCl. Pada
kegiatan 3a, pipet
tetes 3 buah, gelas kimia 150 ml, tabung ukur 25 ml, tabung reaksi kecil,
penjepit tabung reaksi, rak tabung reaksi,
stopwatch, larutan asam oksalat 0,05 M, kalium permanganat 0,01 M, asam sulfat
0,5 M. Pada praktikum 3b, pipet tetes
2 buah, gelas kimia 150 ml, tabung reaksi, rak tabung reaksi, stopwatch,
larutan natrium tiosulfat 0,15 M, dan larutan asam klorida 3 M.
Pada praktikum Titrasi oksidasi dan reduksi, adapun alat dan bahan yang
digunakan yaitu pipet 25 ml, buret 50 ml, labu titrasi 250 ml,
labu takar, larutan asam oksalat, Larutan
, dan
pembakar.
Metoda
Pemisahan dan pemurnian
Pada
praktikum pemisahan dan pemurnian langkah kerja pertama yaitu masukkan
1 sendok pasir ke dalam gelas kimia yang telah
berisi 25 ml air,
kemudian di aduk. Biarkan pasir
mengendap ,kemudian tuangkan larutan bagian atas.
Langkah
kerja Kedua masukkan bubuk kapur tulis ke dalam gelas kimia yang berisi 50 ml air, kemudian di aduk. Siapkan
corong dan kertas saring, lalu lakukan penyaringan.
Langkah
kerja ketiga Larutkan garam dapur dalam gelas kimia yang berisi 50 ml air, kemudian larutkan garam ini disaring dengan menggunakan kertas saring. Uapkan
larutan garam yang telah di saring ini dalam cawan penguapan.
Langkah
kerja keempat Larutkan 10 gram garam
.
ke dalam 50 ml air. Uapkan
larutan ini sehingga volum menjadi 20 ml, kemudian di
dingin kan. Perhatikan
bentuk Kristal yang terjadi.
Langkah
kerja kelima Campurkanlah
1 sendok pasir ke dalam gelas kimia
dan 1 sendok garam dapur sampai homogen, dan masukkan ke dalam gelas kimia. Panaskan
campuran ini kemudian saring. Zat padat
yang tertinggal di corong di cuci dua sampai tiga kali dangan
5 ml air. Air saringan
dan cucian di satukan, kemudian di
uapkan dalam cawan penguapan. Jika air nya
hampir habis,
handaknya pembakar di sisihkan sebentar dan biarkan air menguap sendiri. Langkah kerja keenam masukkan
2 gram yod yang kotor ke dalam cawan
penguapan. Tutup cawan
penguapan tersebut dengan kaca erloji
yang berisi air. Panaskan perlahan-lahan sampai terbentuk zat padat pada
alat kaca erloji. Sesudah di dinginkan kumpulkan Kristal-kristal tersebut. Perhatikan
bentuk Kristal yang terbentuk.
kromatografi
Pada praktikum
kromatografi langkah kerja nya yaitu Pertama,
buatlah garis dengan pensil 1 cm dari ujung bawah keatas. Kromatografi (kertas
saring). Kedua, buat
titik dengan tinta hijau di tengah garis. Ketiga, buat
titik dengan tinta lain di sebelah kiri dan disebelah kanan titik hijau pada
jarak 2cm. biarkan sampai kering. Keempat,
gulung kertas berbentuk silinder. Kelima,
tempatkan kertas dalam gelas kimia yang berisi air setinggi 1cm, sehingga ujung
kertas tercelup dalam air (jaga sehingga titik tersebut agar tidak tercelup
dalam air). Keenam,
biarkan air merambat ke bagian atas kertas. Zat warna dalam tinta akan ikut
merambat naik. Ketujuh, jika air sudah merambat
mendekati ujung kertas, keluarkan kertas. Beri batas rambat air. Kedelapan,
perhatikan noda-noda zat warna dalam tinta. Biarkan kertas saring menjadi
kering. Kesembilan,
ukur jarak batas air dan jarak tiap noda zat warna, dari garis pensil pada
ujung bawah keatas. Kesepuluh,
hitung harga perbandingan kedua jarak =
. Kesebelas,
buat kromatograf dari titik tinta yang tidak dikenal, misalnya campuran dua
macam tinta.
Stoikiometri
Pada praktikum stoikiometri langkah kerja yang Pertama,
stoikiometri system CuSO4 – NaOH. Gunakan
larutan
1 M dan NaOH 2 M. Masukan 8 ml NaOH
kedalam gelas kimia dan catat temperaturnya. Sementara diaduk,
tambahkan 5 ml
yang diketahui temperature awal dan
amati temperature dari campuran. Ulangi
percobaan, menggunakan 6 ml NaOH dan
7 ml CuSO4, sekali lagi menggunakan 5 ml Naoh dan
8 ml CuSO4, akhirnya menggunakan 7 ml NaOH dan
6 ml CuSO4.
Langkah
kerja yang Kedua, stoikiometri asam-basa. Kedalam 3 buah gelas
piala masukkan berturut-turut 2, 4, dan 6 ml larutan
NaOH, dan kedalam 3 buah gelas
piala lainnya masukkan berturut-turut
8, 6, dan 4 ml Hcl. Temperature
dari tiap tiap larutan diukur, dicatat, kemudian dirata-ratakan. Setelah itu
kedua macam larutan ini dicampurkan
sedemikian rupa, sehingga volume campuran nya selalu tetap yaitu 10 ml. Perubahan
temperature yang terjadi selama
pencampuran dicatat sebagai temperature akhir. Selanjutnya,
buat grafik antara
(sumbu Y) dan volume asam-basa
(sumbu X). Lakukan
percobaan yang sama terhadap campuran NaOH dan
Perbedaan apakah yang mungkin
terdapat jika dibandingkan terhadap percobaan sebelumnya.
Laju Reaksi
Pada praktikum laju reaksi langkah kerja 1a reaksi antara seng dan asam
klorida Yang pertama isikan seng sebanyak 1 gr kedalam balon, kemudian pasang balon itu pada
labu yang mengandung 8 ml larutan asam klorida 1 M. kedua jalankan stopwatch
tepat pada saat seng itu dijatuhkan kepada larutan asam klorida dan hentikan
stopwatch itu tepat pada saat balon itu dapat berdiri. Ketiga, lakukan hal yang
sama dengan larutan asam klorida 1,8 M, 3 M, dan 6 M. Keempat catat hasil
pengukuran waktu yang dicapai itu pada lembaran pengamatan.
Pada langkah kerja 2b reaksi
antara kalium karbonat dan asam klorida yang pertama isi balon denga 1 gr marmer butiran dan pasang balon itu pada labu yang
sebelumnya telah diisi dengan 8 ml asam klorida 1 M. kedua reaksikan marmer itu
dengan menjatuhkannya didalam asam klorida itu. Ukur waktu yang diperlukan agar
balon itu terisi dengan karbondioksida. Ketiga, lakukan hal yang sama dengan 2
gr marmer yang telah digerus halus. Keempat, bandingkan hasil pengamatan
pengukuran waktu yang diperoleh itu dan terangkan.
Pada langkah kerja 3a reaksi
antara kalium permanganat dan asam oksalat. Yang pertama
encerkan 50 tetes larutan asam oksalat dengan air hingga menjadi 25 ml (
Larutan A ). Lakukan hal yang sama dengan larutan permanganat ( Larutan B ). Kedua, Kemudian dalam suatu tabung reaksi kecil bubuhkan kepada 2 tetes larutan A,
2 tetes larutan asam sulfat 0,5 M dan 1 tetes larutan B. Jalankan stopwatch
ketika tetes terakhir ini ditambahkan. Ukur waktu yang diperlukan agar warna
larutan hilang. Ketiga, panaskan
tabung reaksi yang mengandung 2 tetes larutan A dan 2 tetes larutan asam sulfat
0,5 M dalam air mendidih selama 10 detik. Kemudian tambahakan 1 tetes
larutan B, dan catat waktu yang diperlukan agar warna kalium permanganat itu
hilang. Keempat, terangkan
hasil – hasil yang didapat itu, dalam lembara pengamatan.
Pada langkah
kerja 3b reaksi antara kalium permanganate dan asam oksalat. Yang pertama buat
tanda hitam pada sehelai kertas putih dan tempatkan sebuah tabung reaksi diatas
tanda itu. Kedua, kedalam tabung itu bubuhkan 2 tetes larutan natrium tiosulfat
0,15 M dan 2 tetes larutan asam klorida 3 M. ukur waktu yang diperlukan untuk
mengaburkan tanda hitam itu. Ketiga, kedalam tabung reaksi lain bubuhkan 2
tetes larutan natrium tiosulfat 0,15 M dan celupkan tabung itu selama 10 detik
dalam air mendidih. Kemudian taruh tabung itu diatas tanda hitam tadi, bubuhkan
2 tetes asam klorida 3 M, dan amati waktu yang diperlukan untuk mengaburkan
tanda hitam itu. Keempat, catat semua pengamatan pada lembaran pengamatan dan
terangkan hasil-hasil yang didapat.
Titrasi okidasi dan reduksi
Pada praktikum titrasi reduksi dan oksidasi langkah kerja yang Pertama Pipet 10 ml larutan
asam osalat standar kedalam labu titrasi. kedua, tambahkan 20 ml air dan
tambahkan 2 ml
2 M. Ketiga, panaskan sampai hampir mendidih (
). Keempat, titrasi dengan larutan
sehingga terjadi perubahan warna (perhatikan
pada awal titrasi warna
tidak segera hilang).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemisahan
dan Pemurnian
Hasil percobaan pertama sebelum
dicampurkan pasir dan air berwarna bening. Setelah dicampur dan diaduk rata
warna airnya menjadi keruh dan pasirnya mengendap dibagian bawah. Ini memakai
cara dekantasi terjadinya pemisahan yang jelas. Percobaan ini sesuai dengan pendapat Wong (2011) yang mengatakan
dekantasi merupakan pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan cara
dituangkan secara langsung.
Setelah bubuk kapur tulis dilarutkan
dalam air, warna air berubah menjadi
keruh, Setelah
disaring dengan kertas penyaring, hasil
penyaringan tersebut berubah warna
menjadi jernih. Percobaan ini terjadi
dalam proses filtrasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilo, Tri (2011) bahwa
filtrasi merupakan pemisahan komponen-komponen dengan menggunakan filter.
Pada
pemisahan garam dapur, Setelah garam dapur dilarutkan kedalam air yang terjadi
yaitu garam larut dalam air, namun setelah disaring masih ada garam yang tertinggal pada kertas saring,
hal ini disebabkan karena partikel garam masih ada yang tidak larut. warna air tetap jernih. Setelah
larutan dipanaskan warna larutan berubah dan berkurang volume nya karena
menguap. Setelah didinginkan terdapat Kristal-kristal garam yang melekat pada
dinding cawan penguap, garam dan airnya terpisah. Percobaan ini terjadi dalam
proses kristalisasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Keenan (2000) bahwa
kristalisasi dapat dilakukan untuk memisahkan zat cair dan zat padat yang
saling larut. Pada kristalisasi larutan pekat didinginkan sehingga zat terlarut
mengkristal. Hal itu terjadi karena kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan,
apabila tidak cukup pekat dapat dipekatkan terlebih dahulu dengan jalan
penguapan, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan.
Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl.
Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan
air laut. NaCl nyaris tak
dapat larut dalam alkohol, tetapi larut dalam air sambil menyedot panas,
perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal: suatu garam
yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang dapat digusur.
Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu netral terhadap indikator
semisal lakmus. Garam rangkap; garam yang terbentuk lewat kristalisasi dari
larutan campuran sejumlah ekivalen dua atau lebih garam tertentu. Dalam
larutan, garam ini merupakan campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan mengion
jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas berbeda dengan garam kompleks yang
menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan (Arsyad, 2001).
Setelah garam CuSO4
. 5H2O dilarutkan kemudian dipanaskan, setelah volumenya
berkurang sebagian. Kemudian didinginkan, setelah larutan itu dingin terlihat
kristal2 disekeliling cawan yang halus dan bewarna putih. Kristalisasi
merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut dalam suatu
larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan
perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi penguapan
dan kristalisasi pendinginan (Nisa halimah.2009).
Setelah garam dapur
dan pasir dicampurkan dengan air, air hasil campuran terlihat keruh, kemudian setelah disaring warna air
menjadi jernih kembali, dan setelah hasil penyaringan dipanaskan hingga air
mulai habis kemudian didinginkan cairan tersebut membentuk
Kristal-kristal. Syarat utama tebentuknya Kristal daru suatu larutan adalah
larutan induk harus dibuat dalam kondisi lewat jenuh. Kondisi lewat jenuh dalah
kondisi dimana pelarut mengandung zat terlarut melebihi kemampuan pelarut
tersebut untuk melarutkan zat terlarut pad suhu tetap (Fessenden,2002).
Setelah yod dicampur dengan pasir dan dipanaskan serta ditutup dengan kaca
erloji yang diberi sedikit air pada bagian atasnya. Beberapa menit kemudian yod
menguap pada kaca erloji dan memebentuk zat padat (Kristal-kristal)pada bagian
kaca. Kristal tersebut
berwarna ungu.
Kromatografi
Hasil yang diperoleh
dari praktek dapat diketahui sebagai berikut
Air biasa
|
Warna tinta
|
Warna noda
|
Jarak noda
Jarak air
|
|
Biru
|
Biru muda
Biru
|
|
|
Hijau
|
Hijau
Hijau muda
Kuning
Biru muda
|
|
|
merah
|
Merah
Merah muda
|
|
Air Aquades
|
Warna tinta
|
Warna noda
|
Jarak noda
Jarak air
|
|
Biru
|
Biru muda
Biru
|
|
|
Hijau
|
Hijau
Hijau muda
Kuning
Biru muda
|
|
|
merah
|
Merah
Merah muda
|
|
(fransisco, 2004) berpendapat bahwa Semakin tinggi volume larutan
NaOH semakin rendah temperature yang dihasilkan dan Semakin rendah volume
larutan NaOH, maka semakin tinggi temperature yang dihasilkan. Semakin bannyak tinta yang diteteskan , maka semakin lebar
pula resapan tintanya. Dan penetesan tintanya jangan terlalu banyak akan
mengakibatkan melebarnya tinta warna yang sangat banyak
Jadi kesimpulannya,
dari hasil percobaan bahwa jarak dari air pada tiap zat warna tidak sama dan
juga jarak noda yang ikut merambat naik juga tidak ada yang sama. Selain itu
dapat disimpulkan pula bahwa warna dari tinta yang merambat lebih muda dari
warna tinta yang pertama kali diteteskan pada kertas.
(Joko, 2008:157), menyatakan bahwa semakin banyak tinta
yang diteteskan , maka semakin lebar pula resapan tintanya. Dan penetesan
tintanya jangan terlalu banyak akan mengakibatkan melebarnya tinta warna yang
sangat banyak.
Stoikiometri
Pengamatan
Stoikiometri CuSO4 – NaOH
|
NaOH – CuSO4
Ml
Ml
|
TM
|
TA
|
∆T
|
|
5
2
4
3
3
4
2
5
|
29
27
26
26
|
29
28
27
26
|
29 -29 ꞊ 0
28 – 27 ꞊ 1
27 – 26 ꞊ 1
26 – 26 ꞊ 0
|
Stoikiometri
Asam – Basa
a. NaOH – HCL
|
NaOH – HCL
Ml
Ml
|
TM
|
TA
|
∆T
|
|
2 8
4 6
6 4
|
27
27
27
|
30
38
28
|
3
11
1
|
Grafik pengamatan stoikiometri NaOH-HCl

b. NaOH_H2SO4
|
NaOH_H2SO4
Ml Ml
|
TM
|
TA
|
|
|
2 4
|
26
|
26
|
0
|
|
4 2
|
26
|
27
|
1
|
Grafik pengamatan stoikiometri NaOH_H2SO4
Stoikiometri CuSO4-NaOH
Semakin tinggi volume
larutan NaOH semakin rendah temperatur yang dihasilkan dan semakin rendah
volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperatur yang dihasilkan. Pada
pencampuran larutan tersebut dengan perbedaan volume antara NaOH dengan CuSO4, menghasilkan perubahan warna yang berbeda-beda. pencampuran 5 ml NaOH dengan 2 ml CuSO4 menghasilkan warna biru tua serta wujudnya menjadi lebih kental dari
sebelumnya, hal ini terjadi karena larutan yang terbentuk tidak tepat jenuh. Pada pencampuran 4 ml NaOH dengan 3 ml CuSO4 menghasilkan warna biru dan terbentuk gumpalan dikarenakan larutan tersebut tepat jenuh. Pada pencampuran 3 ml NaOH dengan 4 ml CuSO4 menghasilkan larutan warna hijau costa dan
terdapat endapan dibagian bawahnya. Pada pencampuran 2 ml NaOH dengan 5 ml CuSO4 menghasilkan warna biru dan tidak terjadi perubahan wujud dikarenakan larutan tersebut lewat
jenuh.
Dari hasil yang diperoleh maka dapat diketahui jika semakin banyak volume
NaOH yang dicampurkan maka semakin gelap warna yang dihasilkan. Semakin sedikit
volume CuSO4 yang dicampurkan
maka semakin gelap warna campuran. Pengaruh variasi volume terhadap suhu yaitu
semakin banyak volume NaOH yang dicampurkan maka suhu yang terbentuk juga
semakin tinggi.
Stoikiometri NaOH – HCL
Semakin tinggi volume
asam Maka suhu semakin rendah, semakin rendah volume asam maka suhu semakin
tinggi dan semakin tinggi basa, maka suhu rendah.
Percobaan di atas menggunakan reagen NaOH yang
bersifat basa dan larutan HCL yang bersifat asam yang apabila kedua larutan
dicampurkan akan didapat garam NaCl yang kemudian diukur suhunya menggunakan
thermometer agar dapat diketahui suhu setelah dicampurkan kemudian diaduk agar
kedua larutan dihomogenkan.
Pada percobaan kedua digunakan reagen NaOH 1 M yang
bersifat basa dan yang bersifat asam. Yang apabila dicampurkan akan
menjadi garam dan juga digunakan akuades untuk mengencerkan larutan NaOH
dan menjadi 1 M. percobaan kedua dilakukan dengan mencampurkan larutan
kemudian diaduk agar larutan menjadi homogen kemudian diukur suhunya agar dapat
diketahui tinggi suhunya. Percobaan kedua juga dilakukan tiga perlakuan berbeda
yang pertama yaitu mencampukan 2 ml NaOH dengan 6 ml dan didapat suhu NaOH adalah 28 , suhu dan suhu campurannya reaksi ini
termasuk dalam reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi
pembatas dan sebagai pereaksi sisa. Perlakuan kedua adalah dengan
mencampurkan 4 ml NaOH dan 4 ml dan didapat suhu NaOH adalah , suhu
adalah dan suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga termasuk dalam
reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan
sebagai pereaksi sisa. Pada perlakuan ketiga dicampurkan 6 ml NaOH dan 2
ml dan didapat suhu NaOH adalah , suhu adalah dan suhu
campurannya adalah . Reaksi ini juga merupakan reaksi non stokiometri karena
terdapat NaOH sebagai pereaksi dan sebagai pereaksi pembatas. Dan pada
percobaan kedua ini didapat titik maksimumnya dan titik minimumnya .
Dari kedua percobaan diatas dapat kita buat garfik
suhu terhadap jumlah volume masing – masing reagen. Pada grafik 4.3.1 dapat
kita lihat apabila semakin banyak pereaksi yang beraksi atau semakin sedikit
pereaksi yang bersisa maka perubahan suhu semakin tinggi sehingga pada
percampuran 4 ml NaOH 1 M dan 4 ml HCL 1 M merupakan suhu tertinggi karena
reaksi tersebut merupakan reaksi stoikiometri. Dan pada grafik 4.3.2 juga
membuktikan semakin sedikit konsentrasi pereaksi sisa semakin tinggi
perubahan suhunya. Dan didapat tertinggi pada campuran 6 ml NaOH dan 2 ml .
Dalam praktikum ini terdapat beberapa factor kesalahan
yang membuat hasil percobaan kurang akurat yaitu ketika pengukuran suhu
menggunakan thermometer.Thermometer mengenai dinding gelas kimia dan tangan
pada saat memegang thermometer kurang ke atas, selain itu suhu ruangan yang
kurang stabil serta pipet yang digunakan telah di gunakan pada larutan.
Dalam percobaan reagen dimasukkan kedalam gelas kimia,
di ukur sesuai volume yang diperlukan. Dan diukur menggunakan thermometer, hal
ini berfungsi agar mendapatkan suhu yang akurat dari masing – masing
reagen dengan volume yang berbeda. Lalu reagen dicampur dan diguncang sedikit
agar reagennya tercampur. Kemudian diukur suhu campurannya dengan thermometer
agar dapat diketahui suhu campuran tertinggi dan dapat ditentukan yang
stoikiometri.
Kesimpulan
Stoikiometri CuSO4
Semakin tinggi volume
larutan NaOH semakin rendah temperatur yang dihasilkan dan semakin rendah
volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperatur yang dihasilkan.
Stoikiometri NaOH – HCL
Semakin tinggi volume
asam Maka suhu semakin rendah, semakin rendah volume asam maka suhu semakin
tinggi dan semakin tinggi basa, maka suhu rendah.
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Laju Reaksi
Pengaruh konsentrasi pada laju
reaksi
·
Reaksi
antara seng dan asam klorida
|
Konsentrasi
HCl
|
Waktu
|
|
3 M
|
3 menit.10
detik
|
·
Reaksi
antara kalium karbonat dan asam klorida
Pengamatan marmer halus
|
Marmer
|
HCl
|
Waktu
|
|
1 gr
|
8 ml
|
7 menit.12
detik
|
|
2 gr
|
8 ml
|
7 menit.12
detik
|
Pengamatan marmer kasar
|
Marmer
|
HCl
|
Waktu
|
|
1 gr
|
8 ml
|
27 menit
|
|
2 gr
|
8 ml
|
27 menit
|
Reaksi antara seng dan asam klorida dinyatakan gagal
karena balon yang dipasang pada labu 100 ml tidak dapat naik. Hal itu
dikarenakan konsentrasi dan volume asam klorida yang digunakan kecil. Semakin
kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar
partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil. (Anis Dyan R dan Waijinan :
2009).
Jadi kesimpulannya yaitu : semakin
besar molar suatu zat, semakin cepat laju reaksi terjadi. Bird (2000)
mengatakan, bahwa kecepatan reaksi tergantung pada ion yang mengandung asam dan
dengan adanya natrium tiosulfat maka akan membebaskan iodium telah diasamkan
dengan asam sulfat.
semakin besar
temperatur yang diberikan, maka semakin cepat laju reaksi yang berlangsung. Dan
juga semakin besar molaritas, maka semakin cepat konsentrasinya. Konnaso (2000)
mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah pengaruh
konsentrasi, pengaruh besar partikel atas laju reaksi, pengaruh temperatur atas
laju reaksi pada temperatur atas laju reaksi reaksi ini tergantung pada zat-zat
pereaksi. Whiskia (2004) mengatakan bahwa salah satu metode penentuan orde
reaksi menurut waktu dan reaksi awal dari sederajat percobaan . metode
membutuhkan pemetaan yang tepat dari fungsi konsentrasi pereaksi antara waktu
yang dipergunakan untuk mendapatkan hasil yang tepat.
Titrasi
Oksidasi dan Reduksi
Tabel pengamatan
|
Titrasi
|
|
|
Kedudukan Buret :
- Setelah titrasi
- Awal titrasi
Jumlah KMnO4 yang digunakan
|
18-32
0-18
32 ml
|
15 ml larutan
asam oksalat memerlukan 4 mL KmnO4. asam Oksalat yang telah panaskan sekitar
suhu 80 derajat celcius akan berunah warna dan terdapat endapan pada
dasar labu setelah dicampurkan 4 ml KMnO4.
PENUTUP
Kesimpulan
Pemisahan dan pemurnian ada beberapa
cara pemisahan campuran yaitu filtrasi, kristalisasi, destilasi. Jadi
suatu larutan yang dicampurkan dengan air dan kemudian disaring terdapat
perbedaan dan hasil saringan tersebut dipanaskan akan terlihat beberapa
kristal. Sebagai contoh garam ini merupakan suatu komponen. Bila suatu campuran
yod dengan natrium karbonat dapat menimbulkan kristal yang berwarna ungu. Begitupula dengan campuran garam dan pasir, air yang awalnya bening
semakin disaring dan dicuci air saringan tersebut semakin pekat.
Kromatografi adalah suatu teknik
pemisahan dan pengidentifikasian campuran berdasarkan perbedaan suatu kecepatan
perambatan komponen dalam medium tertentu dan pada kromatografi,
komponen-komponenya akan dipisahakan antara dua buah fase yaitu fase diam dan
fase gerak. Difase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak
akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen diam yang mudah tertahan pada
fase diam akan tertinggal dan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan
dapat bergerak lebih cepat.
Dari hasil
praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan suhu, warna
dan endapan (wujud) dapat terjadi jika 2 zat dicampurkan. Pada stoikiometri
system perubahan temperature dipengaruhi oleh besarnya volume campuran, dan
pada stoikiometri asam dan basa perubahan suhu tidak dipengaruhi oleh volume. Pada Stoikiometri
Semakin tinggi volume
larutan NaOH semakin rendah temperatur yang dihasilkan dan semakin rendah
volume larutan NaOH, maka semakin tinggi temperatur yang dihasilkan. Pada Stoikiometri NaOH – HCL Semakin tinggi volume asam Maka suhu semakin rendah, semakin rendah volume
asam maka suhu semakin tinggi dan semakin tinggi basa, maka suhu rendah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju
reaksi adalah semakin besar temperatur yang diberikan maka semakin cepat laju
reaksi yang berlangsung. Dan juga semakin besar molaritas maka semakin cepat
konsentrasinya. Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan laju raksi dengan
jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap
reaksi baru.
Semakin lama uapannya
bertambah,telah beberapa lama dilakukan pembakaran selama kurang lebih 15 Menit
airnnya mendidih, dan dilakukan titrasi, airnya berubah semakin jernih dan ada
sedikit endapan kotoran dari cairan
. Semakin
lama uapannya bertambah,telah beberapa lama dilakukan pembakaran selama kurang
lebih 15 Menit airnnya mendidih, dan dilakukan titrasi, airnya berubah semakin
jernih dan ada sedikit endapan kotoran dari cairan
.
Saran
Saran untuk kegiatan pratikum kimia dasar ini yaitu hendaknya pratikan dapat
melaksanakan pratikum dengan benar dan hati-hati agar pratikum ini dapat berlangsung
dengan baik, Dalam praktikum kimia dasar masih sangat perlu bimbingan khusus, terutama
pada penggunaan alat-alat laboratorium. Serta dalam pembahasan materi juga
diperlukan bimbingan yang baik. Sehingga permasalahan dan tujuan dalam
praktikum dapat terselesaikan dan tercapai dengan maksimal. Dan Sebelum
melakukan praktikum alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu
disiapkan, agar dalam melakukan kegiatan praktikum dapat berjalan dengan baik,
sehingga waktu praktikum dapat dimanfaatkan dengan seeffisien mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Purba Michael. 2002. Pemisahan filtrasi destilasi dan
kristalisasi. Erlangga. Jakarta.
Sitorus. Ronald. 2002. Pemisahan dan Pemurnian.
Erlangga. Jakarta.
Anonim. 2009. http://asyharstf08.wordpress.com/2009/10/31/pemisahan-dan-pemurnian-zat-cair-serta-zat-padat/.html. Pemisahan
dan pemurnian zat cair serta zat padat. 11 November 2014.
Adhi Rusandhi, Sucahyono.
2009. http://PublishedbySucahyonoAdhiRusandhi.blog.com/
2009/08/27/pemisahan-dan-pemurnian-zat-secara-fisik/.html. pemisahan dan pemurnian zat secara fisik. 11 November 2014.
Anonim. 2010. http://ochakimia.blogspot.com/2010/09/05/Pemisahan-dan-pemurnian-zat-secara-fisik/.html. pemisahan dan pemurnian zat secara
fisik. 11
November 2014.
Sanjaya,
ade. 2010. http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/pemurnian-dan-pemisahan.html. Pemurnian dan pemisahan. 11 November
2014.
Anonim.
2010. http://blognyachami.blogspot.com/2010/09/pemisahan-dan-pemurnian-zat-cair-dan.html. Pemisahan dan pemurnian zat cair. 11 November 2014.
Kusnandini. 2011. http://kusnandini.wordpress.com/2011/04/30/pemisahan-dan-pemurnian-zat-padat/.
Pemisahan
dan pemurnian zat padat. 11 November
2014
John, Wilson.2001. Kegiatan Perbandingan Praktikum Kimia Dasar. Bumi sakti : Semarang
J. Marray 2004.
Kromatografi . Balai Pustaka : Jakarta
Stacy.2003.Kimia
Dasar dan Terapan Moderen. Erlangga:Jakarta
Yasid . 2005. Kromatografi . Erlangga : Semarang
Aswad. Dkk., 2001. Kimia SMA 2. Erlangga.
Jakarta.
Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan
Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta.
Bird. 2000. Kimia XI A. Jakarta. Erlangga.
B.J Stokes. 2004. Kimia Dasar 3. ITB Press. Bandung.
J.A. Hunt. Dkk. 2009. Kimia Universitas Jilid 3.
Erlangga. Jakarta.
Keenan. Charles W. Dkk. 2000. Kimia Untuk Universitas
Jilid 2. Erlangga. Jakarta
(Joko, 2008:157) http://blogspot.com kromatografi
kertas, di postkan tanggal 11 januari 2009. 20 November 2014.
Anonim. http://digilib.itb.ac.id.files/disk/529/jbptitbpp-gdl-auliaqiran-1-laporan-i.pdf, 20 November 2014
J. Marray 2004. Kromatografi . Balai Pustaka : Jakarta
Anonim. 2010.
http://blognyachami.blogspot.com/2010/09/kromatografi
.html. Kromatografi. 20 November 2014.
Rassy, 2004:367 http://blogspot.com stoikiometri,
di postkan tanggal 11 januari 2004. Diakses tanggal 25 November 2014.
Krisbiyanto. Adi. 2008, Panduan Kimia Praktis SMA.
Pustaka Widyautama; Jakarta
Riccard, 2006:980 http://blogspot.com teori
asam-basa, di postkan tanggal 11 januari 2006. Diakses tanggal 20 November
2014.
Syukri.2000. Kimia Dasar 2. ITB Press. Bandung.
Tamrin dan J. Abdul. 2008. Rahasia Penerapan
Rumus-Rumus Kimia. Gita Media Pres : Jakarta
Konnaso. 2001. Katalis Pada Laju Reaksi. Erlangga.
Jakarta.
Tim kimia dasar.2009. Penuntun praktikum
kimia dasar I .Surabaya :Unipres
Keenan, dkk .2000 . Kimia untuk
Universitas. Jakarta: Erlangga
Anonim. http://banglucky.wordpress.com/category/laporan-praktikum-kimia-anorgani.html.
18 desember 2014.
Hendrayana, sumar . 2006 . Kinetika Kimia . Bandung
: remaja rosda karya
Herman. 2007 . Tehnik Kimia . Jakarta : Erlangga
Keenan, dkk . 2000 . Kimia untuk Universitas .
Jakarta : Erlangga
Saliman . 2006 . Kimia Dasar . Jakarta : PT Raja grafindo persada
Syuky . 2001 . Kimia untuk Pemula . Jakarta :
Erlangga
Wiskia . 2001 . Konsep Dasar Kimia . Jakarta :
Erlangga
Day. Analisis Kimia Kuantitatif.
Jakarta: Erlangga, 2002.
Khopkar.
Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UIP, 2007.
Petrucci, Ralp
H. Kimia Dasar Prinsip-Prinsip dan Aplikasi Modern.
Jakarta: Erlangga, 2007.
Riswiyanto. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga, 2009.
Rivai, Haeeizul. Asas Pemeriksaan Kimia.
Jakarta: UIP, 1995.
Yuliana. 2013. http://yulianalecturechemistry.blogspot.com/2013/06/praktikum-kimdas-titrasi-redoks.html.
Praktikum kimdas titrasi redoks. 28 desember 2014.
No comments:
Post a Comment